Connect with us

Lakukan Kegesitan dan Skala dalam Bisnis Untuk Menghadapi Era Disrupsi

gomuda

Entrepreneur

Lakukan Kegesitan dan Skala dalam Bisnis Untuk Menghadapi Era Disrupsi

Masih dari buku David Butler “Design to Grow: Cara Coca-Cola Menggabungkan Skala & Kegesitan (Dan Bagaimana Anda Bisa Melakukannya Juga)”, terdapat dua hal yang sangat penting dalam menjalankan usaha di era disrupsi (perubahan yang fundamental atau mendasar) yang serba cepat akibat perkembangan teknologi yang bisa jadi mengancam bagi beberapa jenis kegiatan manusia termasuk ekonomi dan bisnis.

Tak heran bahwa kini industri dunia disebut sebagai revolusi industri 4.0.

Gomuda - Sweater Rajut Pria

Apa yang dimaksud Revolusi Industri 4.0?

Revolusi industri gelombang ke empat, yang juga disebut industri 4.0, kini telah tiba. Industri 4.0 adalah tren terbaru teknologi yang sedemikian rupa canggihnya, yang berpengaruh besar terhadap proses produksi pada sektor manufaktur.

Teknologi canggih tersebut termasuk artificial intelligence (AI), e-commerce, big data, fintech, shared economies, hingga penggunaan robot. Istilah industri 4.0 pertama kali diperkenalkan pada Hannover Fair 2011, yang ditandai dengan revolusi digital. (Sumber: https://psekp.ugm.ac.id/2018/04/10/revolusi-industri-4-0/)

Sehingga tak heran Butler mewanti-wanti dua hal ini untuk dijalankan sepenuh hati yakni:

1. Kegesitan (Agility)
2. SKALA (Scale)

Kegesitan

Sejak dimulai dengan revolusi digital termasuk salah satunya adanya jaringan internet yang makin canggih dan cepat membuat kita manusia terutama generasi milenial makin kecanduan dengan hal-hal yang dapat diselesaikan dengan cepat.

Sehingga lahirlah E-Commerce yang mengubah pola bisnis lawas alias offline dan pertokoan digantikan dengan online shop yang tak lagi memerlukan toko dalam proses transaksinya.

Keinginan generasi masa kini untuk membeli barang tanpa harus bermacet-macetan, mengeluarkan biaya transportasi, membuat online shop begitu digemari.

Namun ternyata faktor penting bagi penjual dalam online shop tak lepas dari pelayanan prima yang serba cepat mulai dari produksi, proses, respon hingga pengiriman dan penanganan komplain solutif.

Hal ini tentu saja menjadikan kegesitan faktor utama kesuksesan dalam menjalankan bisnis, terlebih bagi bisnis pemula.

David pun menyatakan, saat awal usaha, hal yang perlu dilakukan agar bisnis berkembang adalah kegesitan.

Diakui atau tidak kebutuhan konsumen yang ingin serba cepat memaksa kita untuk lebih cepat sebelum mendapatkan komplain akan kurangnya kegesitan.

Kegesitan pun perlu didesain, sehingga dapat menghindar dari “Momen KODAK”, sebuah istilah yang dikenal momen dimana perusahaan raksasa mengalami kebangkrutan karena kalah persaingan karena kurangnya adaptasi, meskipun perusahaan tersebut inovatif.

Sehingga kegesitan bermakna mampu beradaptasi dengan pasar yang cepat berubah.

Tak hanya Kodak yang mengalami kebangkrutan, meskipun mampu bangkit kembali namun sulit menjadi raksasa kembali. Layaknya yang terjadi pada Android yang membuat Nokia terpuruk, meskipun kini kembali namun sulit menjadi raksasa ponsel kembali.

David Butler, menyebutkan bahwa semua perusahaan beresiko mengalami Momen Kodak. Maka dari itu bukan hanya mampu beradaptasi, inovatif, namun juga berjuang keras untuk bisa tetap bertahan.

Bagaimana dengan kita usaha/bisnis rintisan?

Butler menyatakan bahwa, jangan salah dengan perusahaan rintisan. Justru merekalah yang bermula dari hal sederhana, namun dalam waktu singkat menjadi seorang milyarder layaknya Mark Zuckerberg dengan facebook dan instagram nya hingga kini menjadi raksasa sosial media.

Perusahaan rintisan seperti ini yang membuat kepanikan dan kekacauan diantara pemain lama dan besar. Di Indonesia sendiri kita bisa melihat banyak perusahaan lama yang mulai menutup beberapa gerai offline dan beralih ke online untuk mampu bertahan dengan marketplace raksasa di tanah air seperti Tokopedia, Bukalapak.

Masalahnya bagaimana dengan UMKM atau bisnis kecil yang berbeda dengan perusahaan startup?

Seperti yang disebutkan diatas, kita usaha mikro, kecil harus mampu beradaptasi dengan pasar yang serba cepat dengan menggunakan perangkat teknologi yang ada seperti menggunakan sosial media untuk memperkenalkan produk dan berjualan via marketplace dan menjualnya di website sendiri. Tak lupa terus berinovasi dan memberikan pelayanan yang gesit dan solutif dalam memenuhi kebutuhan konsumen zaman now.

Terakhir terus bertumbuh dan bertahan seperti yang diungkapkan Butler, caranya dengan belajar untuk lebih cerdas, lebih cepat, dan dalam prosesnya menciptakan nilai baru.

SKALA

Bagaimana dengan skala? Tahukah maksud dari SKALA ini?

SKALA dalam hal ini diartikan sebagai “kemampuan untuk meningkatkan kuantitas tanpa mengurangi kualitas dan laba”.

Sulit memang dalam mengeksekusi skala ini, karena biasanya skala dapat dilakukan setelah bisnis berjalan lancar dan mendapatkan profit untuk bertumbuh, dan hal ini yang sering dilakukan perusahaan besar dalam meningkatkan profit.

Ada tiga poin dari skala ini yakni:

  1. Meningkatkan kuantitas produk
  2. Laba Bertambah
  3. Kualitas meningkat

Singkatnya bisa dikatakan : “Bagaimana melakukan lebih dengan biaya yang sama”

Bagaimana caranya?

Membaca buku ini membuat dua hari yang memahami kata skala ini dan bagaimana caranya agar skala ini bisa dilakukan oleh Gomuda.

Ada beberapa hal yang saya pahami dan bisa diterapkan dalam meningkatkan jumlah produksi dengan biaya yang sama diantaranya:

1. Discontinue produk dead stock

Mengurangi jumlah produksi barang ketika konsumen mulai tidak membutuhkannya, atau sering disebut produk slow moving hingga dead stock. Saat Dead stock alias tak ada penjualan sama sekali atau hanya sedikit penjualan disitulah lakukan produk discontinue alias produk yang tidak akan diproduksi kembali.

Saya sendiri teringat dengan artikel yang disampaikan oleh penulis di Tech In Asia ID yang membahas tentang produk startup. Dalam artikelnya ada kalimat yang sangat menarik

“Bunuhlah produk mu sebelum produk membunuh usaha mu”

Kalimat tersebut bisa diartikan discontinue produk tidak laku atau kurang laku, sebelum produk tersebut membunuh biaya usahamu. Saat kita menghentikan produksi untuk produk tidak laku maka biaya akan terkontrol untuk memproduksi produk laku lebih banyak.

2. Perbanyak jumlah produk yang fast moving alias cepat laku.

Saat biaya produksi lebih difokuskan pada produksi produk fast moving, maka profit akan lebih cepat kita peroleh, dibandingkan memproduksi banyak produk yang belum tentu cepat laku.

Bagaimana cara menentukan produk fast moving? Caranya mudah, saat melakukan pecatatan penjualan pilih 5-10 produk yang paling cepat habis. Statistik bisa juga dibuat secara manual melalui excel atau biasanya juga terdapat di marketplace yang kita jadikan partner, seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak dan lainnya sudah memberikan statistik lengkap tentang penjualan kita di marketplace.

Note: pencatatan penjualan dan membuat statistik produk terjual tiap bulan sangat disarankan untuk melihat tiga jenis produk: fast moving, slow moving, dead stock.

3. Jangan banyak mencoba-coba menjual produk mana yang laku dan tidak laku

Meskipun ini yang tersulit, namun ternyata bisa dilakukan dengan membuat analisis dari produk yang terjual sebelumnya, model produk seperti apa yang fast moving, warna apa, ukuran apa?

Dari sana kita bisa menyimpulkan produk apa yang akan diproduksi sebagai produk baru yang akan dijual dan kemungkinan laku.

Atau bisa juga melalui survey kepada konsumen baik di social media ataupun form survey menanyakan model, warna apa yang disukai. Vote paling dominan berarti paling diinginkan pembeli, Namun harus berhati-hati karena belum tentu produk yang diinginkan pasti dibeli.

Sehingga disimpulkan bahwa “jangan banyak percobaan, waktunya eksekusi dan kesempurnaan (membuat produk dengan tepat setiap kali produksi)”.

4. Buat produk unik

Produk unik yang disukai pembeli dan tidak ditemukan di toko lain, menjadikan produk ini fast moving. Kita pun harus secara rinci mengetahui kenapa disebut unik, mulai dari desain produk, motif, warna, ukuran, dan hal-hal detail lainnya.

Namun unik pun harus disesuaikan dengan kebutuhan konsumen kita. Sehingga analisis pencatatan penjualan tadi sangat penting.

5. Buat Margin Lebih Besar

Saat penjualan kita lancar dan fast moving, maka disaat produk baru kita buat, buat margin pendapatan lebih dibandingkan sebelumnya, namun tentu saja dengan memberikan pelayanan lebih kepada pembeli, baik dengan respon super cepat, packaging unik seperti menggunakan totebag yang bisa dipakai kembali, dengan pengiriman sangat cepat, pembeli akan merasa puas dengan produk tersebut.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Ditulis Oleh: Abdurrahim
Tanggal: 4 September 2018

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

To Top