Connect with us

Inspirasi Bisnis 3 Ulama

aa-gym-youtube

Entrepreneur

Inspirasi Bisnis 3 Ulama

Jika kita membuka-buka lagi buku sejarah Islam khususnya perjalanan hidup nabi Muhammad Saw., maka akan kita temukan fakta menarik di mana beliau sudah menjalani hidup berdikari sejak usia masih sangat muda. Usia 12 tahun beliau sudah turut serta bersama pamannya, Abu Thalib dalam sebuah perjalanan dagang ke Syam.

Dalam buku Muhammad a Trader karya Afzalur Rahman disebutkan bahwa Muhammad telah memimpin ekspedisi dagang ke luar negeri di usia 17 tahun. Beberapa tempat yang telah dikunjunginya adalah Yaman, Siria, Yordania dan Irak.

Gomuda - Sweater Rajut Pria

Reputasi nabi Muhammad Saw. dalam berbisnis sangat harum sehingga mendapat kepercayaan dari banyak orang. Inilah salah satu alasan mengapa masyarakat Arab ketika itu memberikan gelar Al Amin kepadanya.

Di usia 25 tahun beliau dipercaya mengelola urusan perdagangan seorang wanita terhormat di kota Mekkah yaitu Siti Khadijah ke negeri Syam, yang mana wanita ini di kemudian hari menjadi istri beliau.

Tentu ini suatu pencapaian yang luar biasa dalam hal bisnis, apalagi jika melihat usia nabi Muhammad Saw. Fakta sejarah inipun memberi pelajaran berharga bahwa nabi Saw. sebenarnya hidup dalam keadaan berkecukupan karena ikhtiarnya dalam berbisnis, namun beliau memilih hidup dalam kesederhanaan.

Oleh karena ulama adalah pewaris para nabi, Ulama warasatul anbiya, maka tidak heran ketika kita mendapati begitu banyak para ulama yang tidak hanya padat agendanya dalam syiar Islam, namun juga mumpuni dalam kegiatan ekonomi.

Ini adalah suatu hal yang luar biasa, karena ketika ulama mapan dari segi ekonomi, mapan dalam urusan bisnis, maka itu bisa menopang dakwah dengan kokoh.

Ulama pun akan terjaga kehormatannya karena tidak hanya menjadi penyeru umat kepada ketakwaan, namun juga menjadi lokomotif bagi umat dalam hal kemandirian dan kesejahteraan.

Dalam tulisan kali ini akan kita simak bersama inspirasi ulama yang diakui keulamaannya sekaligus juga kiprah bisnisnya.

1. Imam Abu Hanifah

Siapa yang tak kenal dengan nama Imam Abu Hanifah? Setiap muslim pasti mengenalnya, minimal pernah mendengar namanya. Beliau dikenal juga dengan sebutan Imam Hanafi. Memiliki nama lengkap Nu’man bin Tsabit bin Zutha Al Kufi. Lahir di kota Kufah, Irak pada tahun 80 Hijriyah atau 699 Masehi dan wafat di Baghdad pada tahun 150 Hijriyah atau 767 Masehi.

Abu Hanifah dikenal sebagai tokoh dan rujukan dari madzhab Hanafi, salah satu dari empat madzhab fikih terbesar dalam Islam. Madzhab Hanafi sendiri banyak diterapkan kaum muslimin di Mesir, Siria, Turki, Tiongkok, beberapa kawasan di sekitar India, sebagian Afrika Barat dan tentu saja di Irak.

Abu Hanifah adalah seorang ulama dengan keilmuan fikih yang mendalam. Sejak usia muda sudah menguasai hafalan Al Quran dan belajar berbagai cabang ilmu agama Islam secara langsung kepada para guru di Mekkah dan Madinah. Beberapa gurunya berasal dari generasi sahabat nabi Muhammad Saw.

Namun, tahukah Anda jika Abu Hanifah pun seorang pebisnis ulung? Ya, di luar keulamaannya yang sangat berpengaruh, Abu Hanifah pun ternyata seorang pebisnis tekstil.

Kegiatan usahanya dipengaruhi oleh sang ayah yang sudah lebih dahulu menjadi pengusaha sukses dalam bidang tekstil. Salah satu komoditi kain yang diperjualbelikannya adalah kain sutera. Bisnisnya sangat terkenal di Kufah dan Irak.

Abu Hanifah memiliki gudang kain yang sangat besar di Kufah, saking besarnya gudang itu hingga orang-orang menamainya sebagai Gudang Umar bin Huraits. Siapa Umar bin Huraits? Dia adalah seorang milarder pada zaman itu. Gudang kain milik Abu Hanifah disebut dengan demikian untuk menggambarkan betapa besarnya gudang tersebut.

Dalam menjalankan bisnisnya ini, Abu Hanifah tidak melakukannya sendirian melainkan bekerjasama dengan koleganya yang bernama Hafs bin Abdurrahman. Oleh karenanya, beliau masih memiliki keluangan waktu untuk memperdalam ilmu agama.

Namun meski begitu, beliau selalu menyediakan waktu untuk terjun langsung ke lapangan baik untuk mengontrol, mengevaluasi atau sejenak melibatkan diri dalam kesibukan perniagaan.

Kunci sukses dalam berbisnis bagi Abu Hanifah adalah kejujuran. Karena inilah yang diajarkan nabi Muhammad Saw. Ada satu kisah penuh hikmah dalam perjalanan bisnis Abu Hanifah. Suatu ketika, beliau membawa banyak kain untuk diperjualbelikan.

Kain-kain itu diserahkan kepada Hafs, koleganya. Namun, ada sehelai kain di antara tumpukan kain-kain itu yang terdapat cacat di satu sisinya. Abu Hanifah berpesan kepada Hafs, “Jika nanti ada seseorang yang membeli kain ini, beritahukan kepadanya tentang cacat ini.”

Waktu pun berganti, tak terasa kain-kain yang diserahkan Abu Hanifah pun habis terjual. Namun, ada satu yang terlupa oleh Hafs, yaitu ketika kain cacat tadi terjual ia lupa memberitahukan kepada sang pembeli tentang kecacatan di kain itu. Hal ini pun disampaikan kepada Abu Hanifah.

Lantas apa yang dilakukan Abu Hanifah? Beliau menyedekahkan seluruh laba yang diperoleh dari penjualan kain-kain itu. Beliau tidak ingin menanggung harta syubhat atau harta yang samar-samar halal-haramnya. Jumlah yang beliau sedekahkan adalah sebesar tiga puluh ribu dirham. Saat ini kurs 1 dirham adalah 3.772 rupiah, jika ditotalkan maka sebesar 113.160.000 rupiah.

Selain jujur dalam berniaga, Abu Hanifah juga seorang pebisnis yang fair. Pantang bagi beliau curang dalam berniaga. Ada satu kejadian di mana seorang wanita datang kepadanya untuk menjual selembar kain sutra seharga 100 dirham. Abu Hanifah pun memeriksa kain itu dengan cermat kemudian berkata, “Engkau bisa menawarkan kain ini lebih tinggi lagi.”

Wanita itu menaikkan jadi 200 dirham. Namun, Abu Hanifah tetap menyarankan ia untuk menaikkan harganya lagi. Sampai wanita itu menaikkannya seharga 400 dirham. Tapi, lagi-lagi Abu Hanifah tetap meminta lebih tinggi, sampai-sampai wanita itu berkata dengan agak marah, “Apakah engkau menghinaku?”

Abu Hanifah menenangkannya dan menjelaskan bahwa beliau tidak bermaksud menghinanya. “Panggillah seorang yang pandai menaksir harga barang agar ia menaksir kain itu.” Wanita itu pun menurutinya. Ia panggil seorang tukang taksir yang ternyata menaksir kain sutra itu seharga 500 dirham. Kemudian, Abu Hanifah membeli kain itu seharga 500 dirham.

Demikianlah jika ulama berbisnis, yang diharapkan tidak sekedar keuntungan duniawi, namun menjadikan bisnisnya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt.

2. Abdullah Gymnastiar

Aa-Gym

Aa Gym, gambar: acehterkini.com

KH. Abdullah Gymnastiar atau dikenal juga sebagai Aa Gym, adalah seorang kyai yang membina Yayasan Daarut Tauhiid, sebuah lembaga dengan berbagai kegiatan keumatan yang sangat banyak, mulai dari pendidikan, keagamaan, kewirausahaan, kepemudaan, kepemimpinan, hingga ekonomi dan sosial kemanusiaan.

Aa Gym adalah pribadi yang sangat enerjik. Pengajian-pengajiannya hampir selalu dihadiri jamaah hingga ribuan orang. Jadwalnya selalu padat baik di dalam maupun di luar negeri. Nasihat-nasihatnya selalu dirindukan, wejangan-wejangannya selalu menyentuh hati yang terdalam, motivasi-motivasinya senantiasa menginspirasi dan menggerakkan.

Ada yang unik dari Aa Gym, meski dengan jadwal pengajian yang padat, beliau masih sempat mengelola bisnisnya. Bahkan yang mencengangkan adalah ternyata bisnisnya terdiri dari berbagai macam lini. Jika kita berkunjung ke area pesantren Daarut Tauhiid di Bandung, maka yang akan kita temui tidak hanya masjid dan pesantren atau sekolahnya saja, melainkan dengan kantor-kantor usaha yang bermacam-macam.

Di sana ada toserba, ada komplek pertokoan, ada BMT (Baitul Maal wa Tamwil), hotel dan penginapan, restoran, travel haji dan umrah hingga jasa training-training.

Jika bergerak lebih ke utara kita akan berjumpa dengan area berkuda yang kini menjadi tujuan wisata alam terbuka. Dan, masih banyak lini usaha lainnya, termasuk yang sudah sangat dikenal publik adalah perusahaan radio MQFM, perusahaan televisi MQTV, media dan penerbitan dengan bendera Smarttauhiid dan Emqies Publishing.

Tentu ini sebuah pencapaian luas biasa, karena tidak banyak ulama dengan kiprah bisnis seperti ini. Banyaknya lini usaha yang dimiliki Aa Gym, maka tentu saja mampu menyedot tenaga kerja cukup banyak sehingga secara langsung kegiatan bisnisnya menjadi salah satu jawaban bagi masalah pengangguran di negeri ini khususnya di kota Bandung.

Perjalanan bisnis Aa Gym tentu tidak tiba-tiba besar seperti sekarang. Sejak masa muda bahkan sejak bersekolah di tingkat Sekolah Dasar, Aa Gym sudah tertarik dengan dunia usaha. Aa Gym di masa kecil pernah jualan jambu titipan dari tetangganya.

Sebenarnya Aa Gym bukan berasal dari keluarga tidak mampu, akan tetapi beliau ingin menempa dirinya dengan kesederhanaan dan kemandirian. Semasa kuliah misalnya, beliau memilih mengontrak sepetak kamar di tepian sawah untuk melatih kemandirian.

Semasa kuliah, semangat berbisnis semakin bergelora. Beliau pernah membuat keset dan kain perca, pernah juga berjualan baterai dan film kamera ketika acara wisuda di kampusnya. Bahkan beliau pernah menjadi sopir angkutan kota jurusan Cibeber – Cimahi.

Ketika sudah menikah, Aa Gym pernah berjualan bakso. Bisnis bakso ini menjadi bisnis yang paling meninggalkan kesan bagi Aa Gym. Beliau membuka warung bakso di Permumnas Sarijadi Bandung. Aa Gym bekerjasama dengan pamannya sang pemilik rumah.

Setiap jam 4 dini hari, Aa Gym sudah berada di pasar untuk membeli tulang sapi, karena menurutnya bakso yang enak itu kuahnya mesti dicampur dengan sumsum tulang.

Menariknya, setiap kali adzan berkumandang, Aa Gym meninggalkan warungnya karena tidak mau tertinggal shalat berjamaah di masjid pada awal waktu.

Sedangkan para pembeli yang sedang menikmati bakso dipersilakan membayar dengan cara memasukkan uang ke dalam kotak yang telah disediakan dan mengambil sendiri jika perlu uang kembalian. Hal ini selain untuk memudahkan, juga untuk melatih kejujuran kepada lebih banyak orang.

Banyak orang yang datang ke warung baksonya, namun bukan untuk jajan melainkan untuk berkonsultasi kepada Aa Gym tentang berbagai permasalahan yang sedang mereka hadapi. Akibatnya, waktu lebih banyak terpakai untuk melayani konsultasi, sedangkan keuntungan yang didapat dari jualan bakso tidaklah seberapa.

Warung inipun akhirnya tutup, terlebih karena istri beliau tidak tahan dengan aroma bakso setiap kali Aa Gym pulang ke rumah.

Berbagai pengalaman berbisnis di masa muda ini banyak sekali menjadi bekal di kemudian hari ketika Aa Gym akhirnya mendirikan Daarut Tauhiid. Ilmu-ilmu agama Aa Gym diperoleh dari kegiatan pengajian yang rajin beliau ikuti di beberapa masjid di kota Bandung di sela-sela kegiatan kuliah dan bisnisnya.

Tak hanya itu, Aa Gym juga sempat berguru kepada beberapa ulama di Garut dan Tasikmalaya.

Setelah Daarut Tauhiid berdiri, sentuhan-sentuhan bisnis Aa Gym tidak lantas pudar disebabkan kesibukannya dalam berdakwah. Dua kegiatan ini tetap berjalan secara seimbang dan lambat laun menjadi semakin membesar seiring semakin harumnya nama Aa Gym dan Daarut Tauhiid ke seantero nusantara bahkan hingga mancanegara.

Apa kunci bisnis seorang Aa Gym? Melalui berbagai kesempatan ceramah dan training beliau sering mengingatkan bahwa bisnis adalah ladang ibadah kepada Allah Swt. Bisnis yang sukses tidak hanya diukur dari besar kecilnya omset atau laba, namun dari berkah atau tidaknya di hadapan Allah Swt.

Oleh karena itu, ada tiga kunci sukses dalam bisnis. Pertama, keyakinan pada janji dan jaminan Allah Swt. Bahwa rezeki itu bukan datang dari manusia, bukan dari pembeli atau konsumen, melainkan hanya dari Allah Swt. Bisnis yang kita jalankan hanyalah ikhtiar kita, karena itulah kewajiban kita sebagai makhluk.

Kedua, kesungguhan (mujahadah) dalam meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Rezeki yang Allah sebarkan di alam semesta ini tidak bisa diraih kecuali dengan kesungguhan dalam meluruskan niat dan meraihnya dengan penuh rasa tanggungjawab, profesionalitas dan dedikasi.

Ketiga, menjadi pribadi yang jujur terpercaya (kredibel). Kejujuran adalah modal utama dari bisnis. Inilah yang diteladankan oleh nabi Muhammad Saw. Mengapa begitu banyak orang yang percaya kepada nabi Saw., senang berbisnis dengan beliau, dan nyaman bermitra dengan beliau? Jawabannya karena beliau tidak diragukan lagi kejujurannya.

3. Yusuf Mansur

ust yusuf-mansur

Yusuf Mansur, gambar: fiqihmuslim.com

usuf Mansur lahir dengan nama lengkap Jam’an Nurkhatib Mansur. Beliau memimpin Pondok Pesantren Darul Quran, Tangerang. Beliau juga pimpinan majlis pengajian Wisata Hati. Ustadz yang sangat dikenal dengan gerakan sedekahnya ini lahir di Jakarta pada 19 Desember 1976.

Jamaahnya tersebar di seluruh penjuru Indonesia hingga di luar negeri. Selain sebagai seorang ustadz, penceramah dan penulis buku-buku best seller, beliau juga dikenal sebagai pebisnis handal.

Yang terbaru dan sempat mengundang polemik di berbagai forum diskusi adalah Paytren yang beliau dirikan. Perusahaan jasa keuangan ini sudah memiliki 1,7 juta pengguna. Bisnis ini sangat membantu masyarakat dalam keperluan berbagai macam pembayaran, seperti pembelian pulsa, token listrik, PDAM, pembelian tiket kereta api dan pesawat, dan pembayaran lainnya.

Luar biasa lagi, perusahaannya ini murni dimiliki oleh anak bangsa tanpa campur tangan asing.

Perjalanan bisnis Yusuf Mansur sudah sangat panjang. Pahit manis pengalaman sudah beliau rasakan. Pengalaman bisnisnya dimulai tahun 1996 ketika beliau berbisnis di bidang informatika.

Namun, bisnis ini tidak sesuai harapan, bukan berjalan lancar malah menyebabkan beliau terlilit utang yang jumlahnya lumayan. Bahkan, masalah utang piutang ini menyebabkan Yusuf Mansur sempat merasakan dinginnya penjara selama 2 tahun.

Namun, pengalaman pahit ini tidak memadamkan semangatnya dalam berbisnis. Tahun 1998 selepas dari penjara, Yusuf Mansur kembali merintis bisnis. Sayang, bisnisnya kembali menemui masalah dan menyebabkan beliau berada di balik jeruji besi lagi.

Tidak ada kejadian yang sia-sia. Di dalam penjara justru Yusuf Mansur menemukan hikmah bersedekah. Beliau meyakini bahwa sedekah adalah pembuka jalan rezeki yang halal dan thayyib. Selepas dari penjara, Yusuf Mansur merintis usaha kecil-kecilan yaitu berjualan es di terminal Kalideres.

Pada usahanya ini beliau mengamalkan ilmu sedekah dan keikhlasan. Perlahan, usahanya berkembang. Asalnya beliau berjualan sendirian, menjadi punya beberapa karyawan.

Keulamaannya mulai semakin bersinar tatkala beliau menulis sebuah buku berjudul Wisata Hati, Mencari Tuhan yang Hilang. Buku ini berisi hikmah-hikmah dari pengalaman hidupnya semasa berada di dalam penjara.

Ternyata buku ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Indonesia. Banyak pihak mengundangnya untuk acara bedah buku. Melalui forum-forum, majlis-majlis, dan ceramah-ceramahnya, beliau selalu menekankan urgensi sedekah.

Sempat membidani dan membintangi beberapa film dakwah, Yusuf Mansur kemudian menggagas Program Pembibitan Penghafal Al Quran (PPPA). Program ini menjadi kelanjutan dari program Wisata Hati.

Dengan PPPA ini, keluarga besar Wisata Hati bahu-membahu memberikan donasi untuk mencetak anak-anak dari keluarga kurang mampu guna menjadi para penghafal Al Quran. Yusuf Mansur juga mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Karya Informatika untuk mencetak anak-anak muda yang shalih dan berdaya saing di era digital.

Kini, bersama kolega-koleganya, Yusuf Mansur berikhtiar semakin membesarkan Paytren yang telah memiliki izin lengkap dari otoritas keuangan di Indonesia. Dengan bendera PT Paytren Aset Manajemen, Yusuf Mansur ingin membudayakan bisnis yang berakhlakul karimah dan mengangkat derajat bangsa Indonesia di hadapan dunia.

Itulah mengapa beliau rajin berkeliling ke negara lain untuk lebih banyak belajar dan menjalin kerjasama, salah satunya adalah dengan perusahaan teknologi kelas dunia Alcatel Lucent Enterprise. Yusuf Mansur bersama Paytrennya juga telah mengakuisisi Cellum, perusahaan teknologi asal Hungaria. Di dalam negeri, beliau juga menjalin kerjasama dengan banyak pihak.

Yusuf Mansur mengajarkan 8 prinsip dalam bisnis :

  1. Pertama, Aamanna, yaitu yakin bahwa hanya Allah yang Maha Berkehendak.
  2. Kedua, Faghfirlana, yaitu memohon ampun hanya kepada Allah Swt. atas dosa masa lalu yang bisa menjadi penghalang datangnya pertolongan Allah.
  3. Ketiga, Waqina ‘adzabannaar. Menjauhkan diri dari panasnya neraka. Prinsip ini akan membangun mental menjaga diri dari perkara yang haram dan syubhat.
  4. Keempat, Ash Shabiriina. Bersabar dalam menjalankan usaha. Bersabar dalam konsisten menjemput yang halal, dan bersabar dalam istiqamah menolak yang haram.
  5. Kelima, Ash Shadiqiina. Berbisnis dengan kejujuran. Pantang curang dalam usaha.
  6. Keenam, Al Qanitiina. Senantiasa mentaati perintah dan larangan Allah Swt. Inilah rambu-rambu utama yang mesti jadi pegangan para pengusaha.
  7. Ketujuh, Al Munfiqiina. Giat dalam usaha, giat pula dalam menafkahkan harta di jalan Allah. Dalam keadaan usaha sedang mudah ataupun sedang sulit.
  8. Kedelapan, Mustaghfiriina bil ashhaar. Istighfar, memohon ampun kepada Allah di waktu sahur. Hidupkan sepertiga malam dengan tahajud, memohon petunjuk Allah dan ampunan-Nya.

**
Demikianlah kuliah bisnis dari tiga ulama yang sekaligus juga praktisi bisnis sukses. Kelebihan belajar bisnis kepada mereka adalah kita bisa lebih terinspirasi bahwa bisnis bukanlah urusan untung rugi semata, bukan tentang omzet saja.

Namun, ada yang lebih dari itu bahwa bisnis adalah sunnah Nabi Saw. dan sarana ibadah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Semoga menjadi inspirasi bagi bisnis yang sedang kita jalankan.

Penulis: Rashid Satari / Instagram: @kangrashid_

Sumber bacaan :
1. https://www.eramuslim.com/berita/teladan-abu-hanifah-untuk-pengusaha-muslim.htm
2. https://www.kiblat.net/2015/12/02/inilah-gaya-dagang-imam-abu-hanifah-yang-wajib-dicontoh/
3. http://pencaripeluangbisnis.blogspot.co.id/2013/12/kisah-sukses-aa-gym.html
4. http://bio.or.id/biografi-yusuf-mansur/
5. http://yusufmansur.com/8-prinsip-pengusaha/
6. Buku Aa Gym Apa Adanya. Terbitan Khas MQ. 2006

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

To Top