Connect with us

Inilah 10 Tanda Anda Sudah Sangat Ketergantungan Teknologi

ketergantungan-teknologi-techrunch

Life Smart

Inilah 10 Tanda Anda Sudah Sangat Ketergantungan Teknologi

Diakui secara sadar atau tidak, ketergantungan teknologi sudah menjadi salah satu kebiasaan buruk yang melanda manusia di era ‘segalanya terkoneksi ke internet’ ini.

Apabila dulu kita mengandalkan kerja otak untuk menghapal nomor-nomor penting atau berkomunikasi aktif ketika bertemu dengan kerabat juga kawan, kini hal tersebut semakin jarang dilakukan karena kita sudah terlalu mengandalkan alat-alat teknologi.

Gomuda - Sweater Rajut Pria

Teknologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis, dan/atau keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Dengan kata lain, teknologi merupakan segala sesuatu yang bersifat praktis atau semudah-semudahnya, yang diciptakan untuk kenyamanan manusia.

Dari pengertian tersebut di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa teknologi ada atau terjadi untuk mempermudah hidup manusia. Namun, hal tersebut dapat menjadi dua sisi mata uang yang cukup menimbulkan dilema.

Di satu sisi kita melakukan sesuatu menjadi lebih cepat dan mudah, di sisi lain kita lama-lama menjadi manja, dan buruknya menjadi ketergantungan teknologi.

Salah satu contoh kita sudah mulai ketergantungan teknologi ialah tidak ingatnya satu pun nomor telepon, padahal beberapa di antara nomor tersebut merupakan nomor telepon penting seperti polisi, pemadam kebakaran atau kerabat dekat.

Ini terjadi karena kita malas menghapal nomor-nomor tersebut akibat dari terlalu mengandalkan smartphone yang dapat menyimpan puluhan hingga ratusan nomor telepon.

Selain contoh di atas, berikut adalah sepuluh tanda-tanda bahwa Anda sudah sangat ketergantungan teknologi.

1. Koneksi internet terputus, pekerjaan pun terhenti

Bagi orang-orang yang bekerja dan pekerjaan utamanya harus terkoneksi internet, internet yang tiba-tiba terputus dapat menyebabkan pekerjaan di kantor tersebut berhenti dan para karyawan pun dipulangkan lebih awal. Seperti misalnya pekerjaan yang berhubungan dengan mengirim email, yaitu internet marketing.

Di zaman IoT (Internet of Things) ini, dimana semua hal terkoneksi ke internet, terputusnya sinyal internet bisa membuat pekerjaan mereka terhambat. Pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan internet seperti:

  • Art director, Web
  • Associate editor
  • Business/Web analyst
  • Community director
  • Content engineer
  • Creative director
  • Designer, Web
  • Interface designer
  • Line producer
  • Managing editor
  • Network engineer
  • Producer
  • Production artist
  • Technical producer
  • Web assistance supervisor
  • Webmaster
  • Web product manager
  • Web product management director
  • Web technical assistance

cukup besar ketergantungan terhadap internetnya. Sehingga, apabila tiba-tiba terjadi pemutusan koneksi internet, pekerjaan mereka bisa terganggu. Inilah salah satu tanda ketergantungan teknologi dalam skala yang cukup besar.

2. Penyesalan menjadi lebih sering atau umum terjadi

Bagi yang ketergantungan teknologi dalam bentuk sering berbelanja online tentu pernah merasakan penyesalan. Beberapa kali memesan barang secara online seperti misalnya memesan sebuah dress, sepasang sepatu, bahkan televisi; tentu yang diinginkan adalah barang tersebut cocok, pas ukurannya, dan tanpa cacat.

Namun, kenyataannya, kadang pesanan tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Lalu kita pun menyesal dan ingin mengembalikannya.

Apalagi jika yang berbelanja adalah orang-orang yang mudah tergiur ketika melihat barang-barang di dalam katalog. Ketika barang sampai, ada kalanya merasa menyesal karena ternyata barang yang dibeli tidak terlalu dibutuhkan.

Alih-alih dikembalikan, meskipun menyesal, barang-barang tersebut malah menumpuk di gudang karena malas atau tidak punya banyak waktu untuk pergi ke kurir kirim/antar barang untuk memaketkannya kembali. Hal tersebut bisa jadi terjadi berulang-ulang pada sebagian besara masyarakat sehingga penyesalan menjadi lebih sering dan umum terjadi.

3. Tidak menikmati momen secara pribadi dan langsung

Zaman dulu, orang-orang pergi berlibur karena memang benar-benar ingin menikmati suasananya bersama orang-orang terdekat. Kini, kadang pemandangan yang indah dan orang-orang terdekat hanya menjadi objek saja.

Kita menjadi terlalu sibuk untuk mengambil kamera atau ponsel berkamera untuk mengabadikannya lalu mengunggahnya ke media sosial hanya untuk menunjukannya dan/atau mendapatkan ‘like’.

Kadang, kita juga malah kehilangan momen karena terlalu sibuk mempersiapkan alat-alat teknologi. Seperti misalnya saat seorang ayah hendak merekam atau mengambil foto anaknya yang sedang melakukan pertunjukan drama di sekolah, ia malah kehilangan momen karena sibuk mengambil kamera dan menyalakan tombol “on”.

Atau, ketika sibuk merekam, ternyata tiba-tiba baterai kamera habis dan perhatian terpusat pada kondisi tersebut, sehingga momen menikmati pertunjukan pun menjadi terganggu. Jika hal ini terjadi, berarti kita sudah ketergantungan teknologi.

Memang tidak ada salahnya berbagi momen kepada orang-orang banyak, namun momen tersebut menjadi tidak milik pribadi lagi melainkan milik orang banyak. Pengalaman kita menjadi pengalaman publik, sebagian hidup kita menjadi ‘milik’ orang banyak.

Pengalaman-pengalaman tersebut pun tidak disaksikan secara langsung, melainkan lewat alat teknologi. Tentu rasanya berbeda dengan menikmati secara pribadi dan langsung lewat mata sendiri.

4. Tidak hapal nomor telepon seseorang

Terlalu dimanjakan teknologi bisa jadi membuat kita melupakan hal-hal penting dalam hidup kita. Seperti misalnya nomor telepon suami atau istri, atau bagi yang belum menikah, nomor telepon rumah, ayah atau ibu. Hal ini terjadi karena kita sudah ketergantungan teknologi khususnya ponsel.

Ketika suatu hari kehilangan ponsel, bisa jadi kita tidak dapat menghubungi siapa pun karena tidak hapal atau lupa semua nomor-nomor penting tersebut. Ingin melihat di buku telepon pun tidak bisa, karena nomor ponsel tidak ada yang membukukannya.

5. Memilih memutuskan hubungan dengan seseorang lewat pesan teks

Selain biaya yang lebih murah, pesan teks juga memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi di saat ia sibuk. Berbeda dengan telepon yang membutuhkan konsentrasi dan waktu lebih banyak karena harus fokus terhadap pembicaraan, dengan mengirim pesan teks kita hanya membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 2 menit saja.

Pengguna pesan teks tercatat semakin meningkat setiap tahunnya. Menurut Pew Institute, jumlah pesan teks yang dikirim pada tahun 2000 sekitar 14 triliun di Amerika. Pada 2010, jumlahnya melonjak menjadi 118 triliun.

Kecenderungan ini semakin meningkat setiap tahunnya, apalagi sekarang begitu banyak platform pesan teks yang tidak hanya memungkinkan kita mengirim pesan berupa tulisan saja namun juga berupa emotikon dan stiker-stiker lucu. Fenomena ini terjadi tidak hanya pada hubungan kasual saja, tapi juga merambat pada hubungan profesional dan intim, apakah itu terhadap bos atau pasangan.

Pemutusan hubungan kerja lewat pesan teks pun kini dapat kita temukan, meskipun masih jarang terjadi. Tentu hal ini sangat tidak menyenangkan terutama bagi pekerja. Memang praktis dan cepat, namun rasanya kurang etis.

Begitu pula yang terjadi pada hubungan intim. Beberapa hubungan yang sudah menginjak pacaran, tunangan bahkan pernikahan, diputuskan sepihak lewat pesan teks. Hal ini terjadi bisa jadi karena salah paham akan isi pesan teks, atau pihak yang memutuskan tidak berani untuk bertatap muka.

Padahal, pembicaraan secara langsung atau bertatap muka sangat penting bagi sebuah hubungan. Selain dapat mengetahui ekspresi langsung dari si lawan bicara, informasi atau isi pembicaraan dapat tergali lebih mendalam. Hal-hal yang menjadi uneg-uneg pun dapat diselesaikan hari itu juga, dengan catatan kedua pihak saling terbuka dan mencoba untuk saling mengerti juga memahami.

6. Toko fisik akan semakin langka dan menghilang seperti dinosaurus

Pada tahun 2016 diperkirakan nilai transaksi belanja online US$ 4,89 miliar dari 8,7 juta konsumen Indonesia. Nilai dan jumlah tersebut diperkirakan akan terus naik seiring dengan semakin tertariknya orang-orang untuk jual beli online, terutama kaum muda.

Semakin lama, transaksi offline diperkirakan akan semakin berkurang yang berdampak pada tutupnya sejumlah toko fisik. Seperti yang terjadi di Amerika pada 2013, retail Barnes & Noble, Best Buy, dan Office Max menutup ratusan toko retail mereka. Dan jika hal ini terjadi di Indonesia, sudah dapat dipastikan sebagian masyarakat sudah ketergantungan teknologi.

7. Tanpa ponsel seperti tanpa baju

Jika pernah merasa seperti ini, kita sudah benar-benar positif ketergantungan teknologi. Mulai dari mengecek pesan pada ponsel beberapa kali dalam sejam atau membuat status beberapa kali dalam sehari, dan rasanya gatal atau ada yang kurang apabila tidak melakukan hal tersebut, hingga panik ketika ketinggalan ponsel; berhati-hatilah, barangkali kita sudah ketergantungan teknologi.

Teknologi memang bagus karena mempermudah pekerjaan manusia, namun, terlalu banyak menggunakannya hanya akan membuat kita stres dan ketergantungan.

Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan ponsel dapat membawa kepada bencana seperti sibuk selfie atau menerima telepon hingga mengakibatkan kecelakaan mobil, serta beberapa kasus yang membuat tidak seimbangnya kehidupan pribadi dan pekerjaan.

8. Apa-apa Google

Tidak dipungkiri produk Google adalah produk yang merajai dunia saat ini. Mulai dari Android, Google search, Gmail, Playstore, Google Maps, hingga Google Translate. Beberapa artikel menyebutkan bahwa keberhasilan Google terletak pada strategi dan manajemen merek yang tidak dimiliki para pesaingnya, padahal mereka lebih dulu muncul.

Keberhasilan strategi dan menajemen Google membuatnya menjadi merek terpopuler nomor 1 di dunia di bidang teknologi informatika. Dan, hal itu membuat sebagian besar orang di dunia yang melek teknologi sering menggunakannya.

Contoh paling nyata adalah Google search. Produk paling populer ini paling sering digunakan di dunia, mulai dari mencari artikel yang berhubungan dengan tugas sekolah, hingga hal remeh seperti mencari segala informasi mengenai artis yang disukai atau bisa jadi mencari hal-hal yang berhubungan dengan ‘gebetan’.

Padahal, ada kalanya mencari sumber informasi yang tepat dan mendalam adalah dengan langsung bertanya dengan si sumber atau membaca buku-buku karyanya serta berhubungan dengan si sumber yang dapat kita temukan di toko buku atau perpustakaan.

9. Malas berhitung meskipun untuk hitungan mudah

Jujur saja, berapa persen anak sekolah yang melakukan perhitungan menggunakan kalkulator di saat tidak ujian? Sudah dapat dipastikan, sebagian besar melakukannya. Akibat dari ponsel yang menyertakan fitur kalkulator, segala yang berhubungan dengan berhitung kini dapat dengan mudah dan cepat dilakukan.

Ketika seseorang bertanya, “berapa hasil dari 755 dikali 445?” Mereka kemungkinan besar akan mengambil kalkulator untuk menghitungnya. Tidak hanya terjadi pada anak sekolah, orang-orang yang sudah dewasa pun sering, bahkan bisa jadi selalu melakukannya. Apabila benar melakukannya, kemungkinan besar kita sudah ketergantungan teknologi.

10. Menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh

Merupakan kalimat yang paling sering didengar dan dilontarkan akhir-akhir ini berhubungan dengan ketergantungan teknologi. Jejaring dan media sosial serta platform chatting digadang-gadang merupakan penyebab fenomena ini.

Lewat kecanggihan teknologi informasi tersebut, kita menjadi semakin sering melihat ponsel apakah itu untuk mengobrol dengan teman atau berbagi status. Ketergantungan teknologi ini tidak hanya dilakukan ketika sendirian, namun dilakukan juga ketika sedang berkumpul bersama teman atau bahkan ketika sedang bersama pasangan.

Akibatnya hubungan personal dengan orang-orang yang ada dan langsung di hadapan bisa jadi tidak seakrab dengan orang-orang yang dijangkau lewat jejaring atau media sosial. Tentu hal ini sangat disayangkan, apalagi jika terjadi pada sebuah keluarga.

Sepuluh tanda ketergantungan teknologi di atas hanyalah sebagian kecil dari tanda-tanda lainnya. Kita diharapkan bijak dalam menggunakan teknologi agar tidak ketergantungan yang dapat berakibat kepada kacaunya kehidupan pribadi maupun pekerjaan.

Lalu, apabila tanda-tanda tersebut ternyata ada pada diri kita, bagaimana caranya agar kita tidak ketergantungan teknologi?

Cara agar tidak ketergantungan teknologi sebenarnya mudah saja, namun membutuhkan niat dan usaha yang keras. Dalam arti kata, keras menerapkannya pada diri sendiri. Karena, kadang kita sering lembek terhadap diri sendiri, salah satunya dengan menunda lalu lama-lama melupakannya.

Kita dapat memulainya dengan mengontrol dan membatasi penggunaan teknologi. Tentu tidak semua teknologi, melainkan teknologi yang kira-kira bukannya membuat kita pintar dan produktif, malah membuat kita semakin malas dan ketergantungan.

Berikut adalah tiga cara awal dan mudah agar kita tidak ketergantungan teknologi.

1. Membatasi mengecek media sosial menjadi hanya satu atau dua kali per hari

Apabila kita berpikir lebih mendalam, media sosial seperti Facebook, Instagram, atau Twitter bukanlah sesuatu yang penting bagi hidup kita. Berhentilah untuk khawatir atau penasaran dengan status teman-teman kita sehingga merasa kehilangan sesuatu yang penting.

Toh dengan hanya mengecek satu atau dua kali sehari, bahkan seminggu sekali pun, tidak akan membuat dunia kiamat atau pertemanan putus.

Sedikit berbeda dengan platform chatting seperti Whatsapp atau BBM, kini para bos seringkali menggunakan platform ini untuk berkomunikasi dengan bawahannya berhubungan dengan pekerjaan.

Bahkan dalam satu divisi bisa jadi dibuatkan grup agar informasi lebih cepat disebarkan. Serta, bagi para pekerja rumahan, platform ini penting juga untuk berhubungan dengan para calon klien atau pelanggan. Sehingga platform ini tidak bisa begitu saja ditinggalkan, minimal sekali sehari kita harus mengeceknya dengan jumlah maksimal yang sewajarnya.

2. Mematikan ponsel

Jangan khawatir untuk kehilangan teman atau klien ketika memutuskan untuk mematikan ponsel sementara waktu, apalagi ketika kita sedang bekerja dan tidak bisa diganggu. Cukup dengan menulis status bahwa kita sedang sibuk dan akan kembali aktif pada jam-jam tertentu, tentunya akan membuat teman serta klien mengerti.

Mematikan ponsel sebagai salah satu cara agar tidak ketergantungan teknologi juga dapat dilakukan saat kita melakukan hal-hal pribadi yang bermanfaat. Seperti misalnya bercengkrama dan mengobrol dengan keluarga, pasangan, dan anak. Atau bahkan bermain dengan kucing peliharaan, mereka juga butuh kasih sayang majikannya.

3. Stop menggunakan terlalu banyak teknologi meskipun di waktu luang

Di zaman dimana semuanya terintegrasi dan tersinkronisasi ini, lari pun tidak lepas dari ketergantungan teknologi. Mulai dari melihat jam tangan untuk menghitung berapa lama sudah berlari, melihat iPhone untuk meilhat berapa kilometer sudah dilewati, mengganti lagu, menambah atau mengurangi volume, hingga melihat ponsel beberapa kali ketika berlari untuk mengecek apakah ada misscall.

Pada akhirnya berlari menjadi tidak menyenangkan lagi, kita terpenjara oleh teknologi. Inilah saatnya untuk berhenti menggunakan teknologi agar hidup kita menjadi lebih menyenangkan, santai, dan lepas dari kekhawatiran sehari-hari. Karena itulah sebenarnya tujuan dari berlari.

Itulah 10 tanda kita sudah ketergantungan teknologi beserta tiga cara agar tidak ketergantungan. Semoga dapat menambah wawasan dan bermanfaat bagi kehidupan.

Referensi:
www.mnn.com/green-tech/gadgets-electronics/stories/7-signs-we-are-too-dependent-on-technology
www.lifestyleupdated.com/2012/07/18/too-much-technology-how-to-detach-from-it

1 Comment

1 Comment

  1. Amrudly

    May 1, 2017 at 16:54

    Wah … kayaknya saya jadi calon ketergantungan teknologi nih? Tapi pada saat hari minggu, saya memilih untuk menghentikan aktvitas terhadap teknologi karena lebih memilih bersama keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

To Top