Connect with us

Green Roof, Ekosistem Hijau Masa kini

green-roof, gambar makinglewes.wordpress.com

Green

Green Roof, Ekosistem Hijau Masa kini

Saat melihat film The Hobbit, pernahkah didalam benak kalian terbesit untuk memiliki rumah yang diatas atapnnya ditumbuhi sejumlah tanaman dan rerumputan hijau! Jika ya, ternyata rumah atau bangunan yang memiliki konsep “green roof” seperti film tersebut memang sudah ada di dunia nyata kita.

Green roof atau atap hijau merupakan salah satu konsep unik untuk menciptakan vegetasi hijau di atap sebuah gedung atau rumah. Atap yang ditumbuhi bisa sebagian atau seluruhnya dengan pemilihan vegetasi yang hanya dapat tumbuh terbatas, ditanam diatas lapisan anti air.

Sejarah Asal Mula Konsep “Atap Hijau”

Konsep ini sejatinya telah dilakukan tanpa sengaja oleh orang-orang zaman dulu. Pada kala itu penduduk desa viking memiliki kebiasan untuk membangun rumah yang atapnya melengkung hingga ujungnya sampai sampai menyentuh tanah, dan apabila ada tanaman menjalar didekatnya merambat, maka tertutuplah atap rumah orang tersebut.

Gomuda - Sweater Rajut Pria
Rumah viking, gambar wikimedia.org

Rumah viking, gambar wikimedia.org

Ternyata dengan tertutupnya sebagian atap oleh tumbuhan, rumah tersebut lebih terlindungi dari perubahan cuaca, menghangatkan saat musim dingin tiba dan menyegarkan saat musim panas tiba.

Selain masyarakat viking, penduduk Norwegia pada tahun 1800an pun menerapkan green roof pada atap rumah mereka, khususnya rumah-rumah yang ada di pertanian atau peternakan di daerah Skandinavia, Heidal, Norwegia.

Rumah atap hijau di Heidal, gambar wikimedia.org

Rumah atap hijau di Heidal, gambar wikimedia.org

Selain untuk rumah dan peternakan, green roof pada zaman dulu pun diterapkan juga untuk membangun rumah peristirahan terakhir atau kuburan bagi para baron atau bangsawan yang mati kala itu. Sayangnya, atap hijau yang dibuat saat itu belum menerapkan lapisan anti air pada sistemnya, beda dengan atap hijau yang dibuat sekarang ini.

Tren green roof modern mulai dikembangkan di Jerman pada tahun 1960-an, dan dari sana menyebar ke Eropa dan negara-negara di seluruh dunia. Hari ini diperkirakan sekitar 10% bangunan di Jerman beratap hijau.

Negara-negara Eropa yang mengikuti langkah Jerman dan mempromosikan konsep atap hijau ini diantaranya Swiss, Belanda, Norwegia, Italia, Austria, Hongaria, Swedia, Inggris dan Yunani. Sebagai negara pelopor, Jerman telah mengembangkan sistem green roof dalam skala pabrik dan ekonomi.

Misalnya, kota Linz yang ada di Austria meminta pengembang dari Jerman untuk menginstall atap –atap di kota tersebut agar hijau sejak 1983, dan Swiss menyusul pada tahun-tahun berikutnya.

Seiring meningkatnya popularitas green roof di Eropa, maka benua Amerika pun tidak tinggal diam, beberapa kota besar di Amerika utara pun memberikan insentif pajak agar para pengembang bangunan di sana mau menerapkan konsep atap hijau pada setiap bangunan yang mereka bangun.

Misalnya, Toronto, Chicago dan San fransisko memudahkan perizinan bagi bangunan pencakar langit yang didalamnya terdapat atap hijaunya.

Lapisan green roof, gambar vitaroofs.com

Lapisan green roof, gambar vitaroofs.com

Dengan adanya konsep ini, pengembang pun sebenarnya merasa terbantu, karena atap yang ditumbuhi tanaman hijau mampu dimanfaatkan sebagai media penjernih air.

Air kotor di dalam gedung dan air hujan dapat diarahkan ke atap lalu di tampung pada wadah penjernihan selanjutnya. Beberapa tanaman hijau yang baik untuk menyaring, diantaranya calamus, Menyanthes trifoliata, dan Mentha aquatica.

Penelitian dan pengembangan green roof pun semakin serius pada era 1970-an, dan Berlin sebagai kota pertama di Jerman yang telah menerapkan atap hijau ini pun menjadi kiblat penelitian di Eropa. Tidak ingin kalah, Amerika pun membuat sepuluh kota besar di negaranya menjadi pengembangan konsep atap hijau ini.

Beberapa penelitan yang telah di lakukan negara-negara tersebut, menyimpulkan bahwa bangunan dengan atap hijau memiliki dampak positif terhadap perubahan lingkungan dunia.

Manfaat Green roof bagi lingkungan dunia

1. Mengurangi Radiasi Thermal

Radiasi thermal yang dipancarkan matahari saat siang hari tentunya sangat merugikan tubuh manusia karena dapat menyebabkan masuknya radikal bebas ke dalam tubuh, maka untuk mengurangi radiasi berbahaya tersebut setiap bangunan hendaknya memiliki sejumlah tanaman hijau, apalagi sebuah gedung yang berisi banyak manusia!

Green roof mampu meningkatkan perlindungan terhadap datangnya gelombang panas akibat radiasi thermal saat musim panas tiba. Hal itu dikarenakan tanaman hijau yang ada di atap bangunan mampu memfilter udara panas yang akan memasuki gedung.

2. Membantu Konservasi Energi

Selain memfilter udara panas saat musim panas, tanaman hijau yang ditanam di atap sebuah gedung mampu mengurangi hilangnya panas dan konsumsi energi saat musim dingin tiba.

Sebuah penelitian pada 2005 di Universitas Toronto memperlihatkan bahwa green roof yang ada di sejumlah gedung di Toronto saat musim dingin mampu mempertahankan suhu rata-rata harian kota tersebut sebesar 0,8 derajat celcius, yang tadinya 0,2 derajat.

Kemampuan ini dikarenakan dengan adanya tanaman hijau dalam jumlah masif dalam sebuah kota, maka proses pendingin pun terhambat. Hal itu karena, air yang seharusnya berubah menjadi es ditahan oleh sejumlah tanaman untuk disimpan di dalam akar, batang dan daun, melalui proses evaporative cooling.

Dengan bertahanya suhu pada kisaran normal saat musim dingin, hal itu dapat menghemat penggunaan energi listrik yang dipakai, misalnya untuk mesin penghangat.

3. Water Management

Konsep atap hijau ini pun sangat bermanfaat dikala musim dingin berakhir, khususnya bagi negara-negara bersalju. Hal itu karena, saat musim dingin berkahir, salju yang mencair kadangkala menyebabkan masalah kebersihan seperti stormwater runoff. Saat terjadi stormwater runoff, sallju akan mencair dan menyebabkan terbawanya tanah, debu ke jalan.

Dengan adanya tanaman di atap sebuah gedung, salju tidak akan langsung mencair terjun ke bawah, namun tertahan untuk di serap oleh akar tanaman, untuk dikembalikan lagi ke atmosfer melalui proses transpirasi dan evaporasi.

Selain itu, dengan adanya green roof di negara tropis seperti Indonesia, air hujan yang jatuh mampu diserap dan simpan oleh tanaman sebanyak 75%, lalu di lepaskan kembali ke atmosfer melalui proses kondensasi dan transpirasi dan ini baik untuk mencegah terjadinya banjir di daerah perkotaan besar seperti Jakarta atau Bandung.

4. Memelihara Ekologi

Konsep “atap hijau” ini pun sangat menguntungkan hewan-hewan yang sedang bermigrasi atau hewan yang sedang mencari tempat berteduh. Banyak cerita penghuni gedung hijau menemukan hewan-hewan seperti lebah madu, burung, kupu-kupu membuat rumah baru mereka diatap gedung tersebut.

Selain sebagai tempat hidup baru bagi beberapa hewan diatas, atap hijau gedung ini pun berfungsi juga sebagai pencegah global warming, memfilter polusi kendaraan bermotor, dan mengurangi radiasi suara dan bunyi.

5. Menekan Kadar Karbondioksida

Tidak dapat dipungkiri manfaat terbesar dari green roof yakni mampu menekan kadar karbondioksida di daerah perkotaan besar, khususnya kota-kota urban seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya.

Tanaman memerlukan karbondioksida untuk menjalankan proses fotosintesis, dan hasilnya oksigen yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Hal ini tentunya simbiosis mutualisme yang sangat menguntungkan kedua belah pihak.

6. Meningkatkan Ruang Untuk Bercocok Tanam

Tidak dapat dipungkiri dengan diterapkannya sistem atap hijau pada gedung-gedung perkotaan dapat menambah lahan hijau produktif, salah satunya tanaman yang dapat dipanen seperti sayuran dan buah buahan.

Tanaman sayuran dan buah-buahan yang dapat dbudidayakan tentunya disesuaikan dengan ketebalan media tanam dan agresifitas akar suatu tanaman tanaman. Beberapa tanaman yang memiliki akar kuat dan dapat merusak tentunya tidak diperbolehkan untuk di tanam.

Jenis Green Roof

Berdasarkan growing medium penanaman yang digunakan, maka ada dua jenis green roof yang ada dipasaran, diantaranya:

Perbedaan Extensif-Intensif green roof, gambar wikimedia.org

Perbedaan Extensif-Intensif green roof, gambar wikimedia.org

  1. Extensif green roof, yaitu sistem atap hijau yang memiliki lapisan medium pertumbuhan/lapisan tanah antara 2 cm hingga 12,7 cm. Dengan kedalaman ini, vegetasi hijau yang dapat ditanam per meter perseginya dapat memiliki bobot 50-120 kilogram. Jenis ini pun tergolong minim perawatan.
  2. Intensif green roof, yaitu sistem atap hijau yang memiliki lapisan medium pertumbuhan diatas 12,7 cm. Dengan kedalaman tersebut, maka tumbuhan yang dapat ditanam pun bervariasi, mulai dari tanaman akar berserabut hingga pohon. Sehingga jenis ini tergolong mahal perawatan, karena pemilik gedung harus senantiasa memantau pertumbuhan ranting dan akar tanaman agar tidak merusak struktur bangunan. Atap hijau ini diperkirakan mampu menampung vegetasi sebanyak 390-730 kg/m2.

Harga Instalasi Green Roof

Dengan disain terbaru, pemasangan sistem atap hijau yang berjenis extensif diperkirakan menghabiskan anggaran 108 hingga 248 dollar amerika per meter perseginya, atau sekitar 1,62 juta hingga 3,72 juta rupiah/meter persegi (kurs 1 $= Rp.15.000). Sedangkan untuk sistem bejenis intensif harganya berkisar $355 – $2368/m2 atau Rp.5,3 Juta – Rp. 35,5 Juta/m2.

Semua itu belum termasuk harga tumbuhan yang akan ditanam dan biaya perawatan setiap bulannya. Dibalik harganya yang cukup menguras dompet, terdapat manfaat ekonomis yang didapat dikemudian hari, diantaranya:

Memperpanjang umur atap sebuah gedung. Dengan tertutupnya atap oleh membrane anti air, atap akan terlindungi dari radiasi ultraviolet dan kerusakan fisik. Lebih jauh, melalui penelitian dari universitas Penn State, umur sebuah atap gedung yang dipasangi green roof memiliki ketahanan 3 kali lipat dibandingkan atap gedung biasa.

Menaikan harga jual/sewa gedung. Seperti yang telah terjadi pada bangunan di Eropa, rata-rata harga jual atau sewa sebuah kamar yang berada di dalam gedung dengan atap hijau lebih diminati daripada gedung tanpa tumbuhan. Harga jualnya bisa naik sebesar 7%.

Mengurangi penggunaan energi. Seperti yang telah disinggu diatas, dengan penggunaan lapisan anti air dan thermal pada atap sebuah gedung, memungkinkan sebuah gedung dapat mempertahankan suhu hangat pada musim dingin dan memantulkan radiasi panas saat musim panas.

Sebuah penelitian memperlihatkan, perilaku orang-orang yang mendiami gedung yang di green roofing akan lebih efisien menggunakan energi listrik sebesar 26%.

Hambatan dalam menglobalisasikan green roofing

Tantangan utama yang dihadapi para developer green roof yakni harga pemasangan yang mahal hingga dua kali lipat dari pembangunan atap biasa. Mahalnya biaya pemasangan berasal dari struktur atap harus dibuat 2x lebih kuat dari atap normal.

Hal itu dikarenakan atap hijau akan menahan sejumlah air, tanah dan berat tumbuhan yang semakin hari semakin bertambah. Selain itu, akar tanaman pun beresiko menembus lapisan anti air dan struktur atap.

Biaya pemeliharaan yang terbilang tinggi pun membuat pemilik gedung berpikir dua kali untuk menerapkan sistem atap hijau ini. Standar pemeliharaan green roof meliputi membuang daun atau ranting yang sudah mati, mengontrol rumput liar yang tumbuh, memangkas ranting-ranting yang sudah tinggi, mengecek kelelmbapan tanah dan kesuburan tanah.

Selain itu letak geografis dan riwayat seisemik daerah pun menjadi hambatan diterapkannya sistem atap hijau ini. Misalnya, negara-negara yang memiliki riwayat gempa tahunan, pastinya akan memilih bangunan yang atapnya tidak menahan beban berat agar resiko gedung runtuh dapat diminimalisir.

Walaupun begitu, tren atap hijau ini tumbuh secara perlahan di beberapa negara di dunia, bahkan beberapa diantaranya memiliki bentuk green roof yang unik dan berbeda satu sama lainnnya.

Beberapa sistem Green roof (atap hijau) keren yang telah dibangun di berbagai belahan dunia.

1. The ACROS Fukuoka Prefectural International Hall

The ACROS Fukuoka, gambar youtube.com

The ACROS Fukuoka, gambar youtube.com

Green roof ini memiliki total luas 100 ribu meter persegi, dimana terdiri dari 15 buah bagian utama menyerupai anak tangga raksasa, itulah bentuk atap dari gedung The ACROS Fukuoka Prefectural International Hall. Gedung didisain oleh Emilio Ambasz pada 1995.

Gedung kontroversial ini sejatinya gedung pemerintahan di Jepang, yang dibuat pada lahan hijau terakhir di kota Fukuoka. Arsitek argentina, Ambasz telah meyakinkan pemerintahan setempat bahwa dengan disain bangunan yang dibuatnya, maka fungsi gedung dan taman hijau dapat dibangun beriringan.

Bangunan hijau keren ini merupakan salah satu gedung yang membuktikan pada dunia bahwa dengan penggunaan green roof dapat meningkatkan daya jual ekonomi, mengurangi pemanasan global, dan menyediakan lahan hijau bagi masyarakat perkotaan dengan lahan terbatas seperti di Jepang.

2. Chicago City Hall

Chicago City Hall, gambar wikimedia.org

Chicago City Hall, gambar wikimedia.org

Atap hijau keren selanjutnya berada di Amerika serikat bernama Chicago City Hall. Dengan keberadaan gedung ini telah terbukti efektif bahwa green roof dapat mereduksi efek rumah kaca di kota Chicago.

Diatas atap gedung ini telah ditanam lebih dari 20 ribu tumbuhan dari 150 jenis tanaman. Mereka ditanam pada area seluas 3.530 meter persegi.

Salah satu hal penting dari atap hijau di Chicago yakni tanaman diatas sana dapat tumbuh subur pada kondisi cuaca ekstrim. Dengan adanya atap hijau ini, temperatur rata-rata di sekitar gedung relatif bersahabat.

3. The Nanyang Technological University

The Nanyang Technological University, gambar youtube.com

The Nanyang Technological University, gambar youtube.com

Universitas teknologi Nanyang merupakan salah satu gedung ikonik di dunia, karena bangunan ini berbentuk lengkungan unik dengan atap seluruhnya ditutupi oleh rumput hijau. Dua lengkungan bangunannya sendiri membentuk sudut 45 derajat. Bangunan ini sejatinya adalah tempat para mahasiswa seni desain dan media menimba ilmu.

Setiap atap sengaja di tutupi oleh rumput dengan harapan dapat mengurangi gas emisi karbondioksida, dan menyediakan lahan terbuka bagi para mahasiwa berkomunikasi di luar ruangan. Jenis rumput yang ditanam di gedung ini yakni Zoysia matrella dan Ophiopogon.

4. The Javits Center’s

The Javits Center's, gambar livingarchitecturemonitor.com.com

The Javits Center’s, gambar livingarchitecturemonitor.com.com

The Javits Center’s merupakan sebuah gedung raksasa, tempat berlangsungnya berbagai pameran produk barang dan teknologi di Amerika serikat. Bangunan ini terletak di kota New york.

Jika di lihat dari jalan, bangunan ini seperti bangunan komersial lainnya, namun jika kita lihat dari atas, maka kita akan melihat hampir seluruh atap ditutupi rumput hijau. Diperkirakan 6,75 are atau 27,3 ribu meter persegi atap gedung ini ditumbuhi rumput.

Selain mereduksi polusi kendaraan kota Manhattan secara signifikan, bangunan ini pun rendah dalam pemakaian energi sebesar 26% dan jika hujan turun maka dapat menyerap 6,8 juta galon air. Hal ini sangat bermanfaat agar bagian barat Manhattan terhindar dari Banjir dadakan.

5. Waldspirale

Waldspirale gambar gabot.de

Waldspirale gambar gabot.de

Berdasarkan namanya, waldspirale yang artinya hutan spiral, merupakan bangunan yang berfungsi sebagai kompleks perumahan di Darmstadt, Jerman. Apartemen unik ini mulai dibangun sekitar tahun 1990an oleh perusahaan Bauverein Darmstadt.

Rancangan bangunannya sendiri dirancang oleh seniman dari Austria, Friedensreich Hundertwasser dan diarsiteki Heinz M, Springmann. Bentuk bangunan menyerupai huruf U dengan melandai kesalah satu sisi. Totalnya ada 12 lantai pada sisi bangunan paling tinggi. Gedung ini selesai di bangun pada tahun 2000.

Selain kelima gedung diatas, banyak sekali bangunan yang menerapkan konsep atap hijau di dunia, diantaranya:

6. The Vancouver Convention Center, atap dengan jumlah tanaman sebanyak 400 ribu dan rumah bagi 60 ribu lebah.

7. Biesbosch Museum Island, atap hijau dengan bentuk heksagon yang ditumbuhi sejumlah tanaman dan didiami beberapa hewan.

8. The Daniel F and Ada L Rice Plant Conservation Science Center, bangunan sekaligus atap diperuntukan untuk meneliti berbagai tumbuhan , dibangun pada 2009 di Chicago.

9. Moesgaard Museum, museum di Denmark dengan gaya arsitektur terkini dengan sistem atap hijaunya.

10. The Solaire, bangunan perumahan beratap hijau pertama di New York.

11. California Academy of Sciences, bangunan dengan atap seluas 37 ribu meter persegi dan rumah bagi 1,7 juta tumbuhan.

12. Ivry-sur-Seine Social Housing Complex, bangunan atap hijau berupa perumahan, kantor dan pertokoan yang dibangun pada tahun 1969-1975.

13. The Frankfurt International Airport, beberapa gedung di bandara ini memiliki lahan atap hijau seluas 40 ribu meter persegi.

14. The ASLA Headquarters, merupakan bangunan atap hijau di Washington DC.

dan masih banyak gedung lainnya yang belum disebutkan.

Referensi:
https://en.wikipedia.org/wiki/Green_roof
http://www.greenartindonesia.co.id/content/blog/11_bangunan_hijau_dengan_desain_roof_garden
https://interestingengineering.com/15-interesting-green-roofs-from-around-the-world
http://firecopower.com/roof-garden
https://edition.cnn.com/travel/article/amazing-gardens/index.html

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

To Top