Connect with us

Albothyl, Obat Sariawan Populer Yang Kini Dilarang Beredar

tentang-albothyl

Tahu Gak

Albothyl, Obat Sariawan Populer Yang Kini Dilarang Beredar

Beberapa hari terakhir ini, masyarakat Indonesia terutama netizen, dikejutkan dengan sebuah berita yang viral tentang dilarang beredarnya Albothyl Concentrate karena mengandung Policresulen yang berbahaya bagi mulut.

Tentu hal ini sangat mengejutkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang pernah menggunakannya sebagai obat sariawan. Apalagi, Albothyl sudah beredar luas di masyarakat lebih dari 9 tahun yang lalu. Jadi, dapat dibayangkan sudah berapa banyak orang di Indonesia yang menggunakannya dan mungkin terkena efek sampingnya.

Gomuda - Sweater Rajut Pria

Apa itu Albothyl?

Disadur dari laman Mediskus, Albothyl atau lengkapnya Albothyl Concentrate merupakan obat antiseptik yang memiliki banyak manfaat diantaranya untuk mencegah dan mengobati sariawan, bau mulut, dan kebersihan organ intim serta keputihan dengan cepat dan efektif.

Albothyl memiliki kandungan utama berupa Policresulen yang memiliki kemampuan anti bakteri dengan spektrum luas sehingga dapat membunuh bakteri terutama di area vagina.

Albothyl-Concentrate

Albothyl Concentrate, gambar: hargaanyar.com

Berikut adalah 3 mekanisme kerja Albothyl yang diklaim sebagai keunggulannya:

1. Antiseptik

Albothyl dapat membunuh kuman penyebab infeksi seperti bakteri, virus, jamur dan parasit secara selektif. Hal ini terjadi karena sifat Policresulen yang mampu mengkoagulasi atau mengeraskan dinding sel bakteri yang mengandung protein-karbohirat sehingga bakteri tidak dapat bertahan hidup.

2. Hemostatik

Albothyl dapat membantu menghentikan perdarahan pada luka dengan cara menggumpalkan protein plasma pada darah, bukan efek vasokontriksi atau menciutkan pembuluh darah yang memiliki potensi menghambat aliran darah.

3. Astringent

Albothyl dapat menciutkan atau mengecilkan luka serta merangsang pertumbuhan kulit baru. Disebutkan bahwa Policresulen secara unik bekerja secara selektif hanya pada jaringan epitel (jaringan yang melapisi permukaan tubuh) yang mati atau sakit, namun tidak memengaruhi jaringan epitel yang sehat.

Dengan mekanisme kerja tersebut, maka Albothyl yang mengandung Policresulen dapat digunakan untuk:

  1. Membersihkan dan meregenerasi jaringan kulit yang mengalami luka bakar, luka, proses peradangan kronik, lesi dekubitus (luka akibat tekanan pada tubuh dalam waktu lama), lesi krusis (luka pada bagian kaki akibat pembuluh darah yang rusak), kutil kelamin, dan sariawan (stomatitis aftosa).
  2. Membersihkan dan sebagai antiseptik untuk vaginosis akibat bakteri, kandidiasi (infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur Candida) pada vagina dan trikomuniasis (penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit).
  3. Mengatasi perdarahan (hemostatik) lokal.

Namun, tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, yaitu orang-orang yang:

  1. Diketahui memiliki riwayat hipersensitif/alergi terhadap kandungan obat ini.
  2. Sedang hamil trisemester pertama; yaitu Albothyl bentuk ovule tidak disarankan digunakan

Sementara itu, dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Sariawan pada orang dewasa: encerkan 10 tetes ALBOTHYL dalam 1 Gelas Air 200 ml, aduk rata lalu kumur-kumur, kemudian bilas mulut dengan air bersih. Setelah itu encerkan 1-2 tetes ALBOTHYL ke cotton bud, lalu tempelkan pada sariawan.
  2. Sariawan pada anak-anak: Bagi anak yang belum bisa berkumur, isi air 1/2 tutup botolnya, teteskan 1-2 tetes ALBOTHYL, aduk dengan cotton bud, lalu oleskan cotton bud tersebut ke sariawan anak sampai meresap.
  3. Pendarahan lokal: digunakan secara langsung sebagai konsentrat cair.
  4. Luka bakar: larutan dengan konsentrasi 1 bagian Albothyl berbanding 3 bagian air atau hingga 1:8.
  5. Luka bakar luar: gunakan larutan konsentrat langsung atau diaplikasikan pada lapisan kasa.
  6. Cauterization (kauterisasi kimia): aplikasikan kasa basah dengan larutan konsentrat 1-3 menit di area yang terinfeksi 1-2 kali seminggu.
  7. Keputihan akibat Vaginitis (infeksi pada vagina) atau servisitis (infeksi pada serviks atau leher rahim): menggunakan supositoria: masukkan 1 buah supositoria ke dalam vagina setiap hari sekali pada saat malam sebelum tidur selama 1-2 minggu. Pengobatan harus dihentikan saat menstruasi.

Selain dijelaskan mekanisme kerja, fungsi dan dosis yang lazim digunakan; dijelaskan juga efek samping Albothyl. Seperti halnya obat lainnya yang memiliki efek yang tidak diinginkan, Albothyl juga memiliki beberapa efek samping yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

  1. Perasaan tidak nyaman pada awal penggunaan, biasanya nyeri ringan.
  2. Untuk penggunaan di rongga mulut, sifat asamnya dapat mempengaruhi enamel gigi.
  3. Kesemutan pada vagina (pada penggunaan ovule dan gel)
  4. Kandidiasis.
  5. Gatal dan terkelupasnya membran mukosa vagina.
  6. Edema (akumulasi cairan di dalam jaringan yang menyebabkan tangan, pergelangan kaki, kelopak mata dan bagian tubuh lainnya membengkak) dan kesulitan bernapas.
  7. Syok anafilaktik, yaitu reaksi alergi yang tergolong berat karena dapat mengancam nyawa penderitanya. Namun biasanya jarang terjadi.

Apa itu Policresulen?

Disadur dari laman Alodokter, Policresulen adalah obat yang digunakan untuk mengatasi peradangan pada leher rahim (serviks) dan vagina.

Obat ini juga digunakan untuk menghentikan perdarahan setelah mengambil sampel jaringan serviks untuk diperiksa (biopsi cervix) atau setelah pengangkatan polip cervix.

Policresulen merupakan proses kondensasi dari metacresolsulfonic acid dan methanol (formalin) yang bersifat asam.

Dipercaya dapat membunuh jamur dan bakteri seperti Trichomonas yang dapat menyebabkan infeksi pada vagina, serta mempertahankan pH asam di vagina. Selain itu, policresulen memiliki efek menghentikan perdarahan (hemostatik) karena mempengaruhi faktor pembekuan dan mempengaruhi kontraksi otot pembuluh darah.

Meskipun Policresulen memiliki banyak manfaat, berikut adalah peringatannya:

  1. Penggunaan cairan policresulen terkadang dapat mengakibatkan iritasi jaringan, pada penggunaan jangka lama dapat menyebabkan kerusakan jaringan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dulu mengenai risiko dan manfaat penggunaan policresulen.
  2. Wanita yang sedang merencanakan kehamilan, sedang hamil, atau menyusui, sebaiknya berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter sebelum menggunakan policresulen.
  3. Policresulen merupakan obat yang digunakan untuk vagina, sehingga untuk penggunaan di luar vagina, diskusikan terlebih dulu dengan dokter mengenai risiko dan manfaatnya.
  4. Apabila mengenai mata, cucilah mata dengan air mengalir selama mungkin.
  5. Apabila terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Adapun dosis yang dianjurkan pada orang dewasa untuk cervicitis, vaginitis, dan menghentikan perdarahan cervix seteah biopsi cervix maupun setelah pengangkatan polip cervix, masukan 1 tablet vagina (ovula) policresulen ke dalam vagina setiap 2 hari sekali selama 1-2 minggu.

Dalam laman Alodokter.com juga disebutkan kemungkinan efek samping dan bahaya Policresulen terhadap orang yang berbeda-beda reaksinya, diantaranya:

  1. Sensasi tidak nyaman pada vagina.
  2. Iritasi lokal.
  3. Kerusakan jaringan bila digunakan dalam jangka lama.

Lalu, mengapa Albhotyl dilarang beredar?

Meskipun sudah dijelaskan kandungan Albothyl dan cara penggunaannya, namun pada kenyataannya di lapangan, BPOM telah menerima sebanyak 38 laporan dari profesional kesehatan yang menerima pasien dengan keluhan efek samping obat Albothyl untuk pengobatan sariawan dalam dua tahun terakhir ini.

Diantaranya bahkan ada efek samping serius yaitu sariawan yang membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi (noma like lesion).

Dalam wawancaranya dengan Tempo (15/02/2018), Kepala Divisi Ilmu Penyakit Mulut, Departemen Gigi dan Mulut RSCM, dokter gigi Endah Ayu Tri Wulandari, membenarkan penggunaan bahan kimia Policresulen pada kasus tertentu justru dapat memperparah penyakit/kelainan rongga mulut, seperti sariawan. Ia menemukan banyak pasien yang mendatangi dirinya terkena efek samping dari pemakaian Policresulen.

Berawal dari menangani pasien dengan mulut bolong karena jaringannya mati, ia akhirnya menemukan bahwa pasien yang ia tangani tersebut sebelumnya sariawan dan menggunakan Albothyl. Mereka datang padanya setelah kondisi parah.

Menanggapi laporan-laporan tersebut, BPOM RI bersama ahli farmakologi dari universitas dan klinisi dari asosiasi profesi terkait melakukan pengkajian aspek keamanan obat yang mengandung Policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat 36%.

Mereka memutuskan Policresulen tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan serta penggunaan pada kulit (dermatologi), telinga, hidung dan tenggorokan (THT), sariawan (stomatitis aftosa), dan gigi (odontologi).

Pada tanggal 3 Januari 2018, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengeluarkan Surat Rekomendasi Hasil Rapat Kajian Aspek Keamanan Pasca Pemasaran Policresulen dalam Bantuk Sediaan Cairan Obat Luar Konsentrat 36% yang ditujukan kepada PT. Pharos Indonesia. Surat tersebut berisi tentang hasil rapat tanggal 25 Juli 2017 yang merekomendasikan:

  1. Risiko Policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat 36% lebih besar daripada manfaatnya, sehingga tidak boleh beredar lagi untuk indikasi pada bedah, dermatologi, otolaringolongi, stomatologi (stomatitis aftosa) dan odontologi.
  2. Dilakukan re-evaluasi indikasi Policresulen dalam bentuk sediaan ovula dan gel pada saat proses renewal karena indikasi yang tercantum pada informasi produk Policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat 36%.
Surat-BPOM-soal-Albothyl

Surat BPOM tentang tidak boleh beredarnya Policresulen 36% (sumber: pojoksatu.id)

BPOM RI kemudian membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat dan memerintahkan PT Pharos Indonesia dan industri farmasi lain yang memegang izin edar obat mengandung Policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat untuk menarik obat ini dari peredaran selambat-lambatnya satu bulan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Pembekuan Izin Edar hingga perbaikan indikasi yang diajukan disetujui.

Selanjutnya BPOM RI mengimbau kepada profesional kesehatan dan masyarakat untuk menghentikan penggunaan obat tersebut. BPOM juga menyarankan bagi profesional kesehatan yang menerima keluhan dari masyarakat terkait efek samping penggunaan obat dengan kandungan Policresulen atau penggunaan obat lainnya, dapat melaporkan kepada BPOM RI melalui website www.e-meso.pom.go.id.

Masyarakat pun diimbau selalu CEK KLIK (Cek Kemasan, informasi pada Label, Izin Edar, Kedaluwarsa) dan diharapkan untuk tidak mudah terprovokasi isu-isu terkait obat dan makanan yang beredar melalui media sosial.

Menanggapi hal tersebut, Director of Corporate Communication PT Pharos Indonesia Ida Nurtika (Republika; 15/02/2018) mengatakan bahwa perusahaannya masih terus mengumpulkan informasi dan data terkait produk Albothyl tersebut. Selain itu, PT Pharos juga terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan BPOM hingga keluarnya informasi resmi terkait Albothyl Concentrate kepada masyarakat.

Bagaimana langkah selanjutnya yang dapat diambil konsumen?

Melihat berita-berita tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kita tidak dulu menggunakan Albothyl Concentrate sebagai obat sariawan hingga dicabutnya larangan tersebut atau keluarnya produk Albothyl yang lebih aman.

Sementara bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan Albothyl untuk mengatasi sariawan, dapat menggunakan obat pilihan lain yang mengandung benzydamine HCl, povidone iodine 1 persen, atau kombinasi dequalinium chloride dan vitamin C.

Sumber:
[1] http://www.alodokter.com/policresulen
[2] https://mediskus.com/albothyl
[3] http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/02/15/p474zi384-ini-penjelasan-bpom-menyoal-albothyl
[4] http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/02/15/p46qsf377-bpom-minta-konsumsi-albothyl-dihentikan-ini-kata-pt-pharos
[5] https://bisnis.tempo.co/read/1061235/bpom-larang-albothyl-digunakan-apa-saja-bahayanya

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

To Top