Connect with us

5 Pengusaha Sukses Dari dan Untuk Desa

menteri-susi-pudjiastuti

Entrepreneur

5 Pengusaha Sukses Dari dan Untuk Desa

Desa atau kampung atau pinggiran kota seringkali diidentikan sebagai tempat tertinggal. Orang-orang dari desa dan kampung berbondong-bondong ke kota demi mencari penghidupan yang layak, mencari pekerjaan yang keren, menemukan sumber uang yang berlimpah.

Di pedesaan seolah tidak ada harapan. Siapa yang tetap tinggal di pedesaan seorang akan tertinggal dari kemajuan dan kesuksesan.

Gomuda - Sweater Rajut Pria

Apakah betul demikian? Padahal di pedesaan begitu banyak sumber daya alam yang masih asri dan bersih dari polusi. Masih sangat banyak kekayaan alam yang belum terkelola dengan maksimal padahal sangat potensial. Masih begitu banyak sumber-sumber kesejahteraan yang belum tersentuh tangan-tangan kreatif nan inovatif.

Pedesaan justru menyimpan sumber-sumber kekayaan dan kesuksesan yang tidak akan terlihat kecuali oleh mata yang jeli menemukan potensi. Seperti yang ditunjukkan oleh beberapa orang pada tulisan ini.

Lima orang yang berhasil menemukan potensi luar biasa dari desa, kampung, pinggiran yang menjadi tempat tinggalnya. Inilah lima contoh orang dari sekian banyak orang yang memiliki optimisme bahwa membangun kejayaan bangsa bisa berawal dari desa.

Mari kita simak profil kelima pengusaha sukses yang berhasil membangun desa berikut ini.

1. Susi Pujiastuti

susi-pudjiastuti

Menteri Susi Pudjiastuti, gambar: www.cnnindonesia.com

Siapa tak kenal sosok wanita nyentrik yang luar biasa ini? Berlatarbelakang pengusaha, belakangan Susi Pujiastuti didaulat menjadi menteri. Bahkan, salah satu menteri yang menonjol kiprahnya di Indonesia hingga diakui dunia.

Susi adalah pengusaha wanita sukses di bidang penerbangan (Susi Air). Ia memiliki tak kurang dari 50 pesawat dalam berbagai jenis, ada Grand Caravan 208 B, Piaggio Avanti II dan Diamond DA 42.

Kebanyakan dari pesawat-pesawat ini dioperasikan di daerah luar Jawa seperti Kalimantan dan Papua. Ada yang disewakan untuk keperluan kunjungan ke daerah terpencil dan pegunungan, dan ada pula yang digunakan sendiri oleh Susi Air.

Sebelum terjun ke dunia penerbangan, Susi sudah lebih dahulu menyelami bisnis perikanan. Meski pernah mengalami putus sekolah kelas dua SMA, namun keinginanya yang kuat untuk berbisnis benar-benar dibuktikan.

Karena setelah memutuskan keluar sekolah, Susi menjual perhiasannya dan dengan modal Rp 750 ribu rupiah ia memulai sebagai pengepul ikan di Pangandaran tanah kelahirannya di tahun 1983.

Dari Pangandaran inilah Susi memulai semuanya. Bisnis ikannya perlahan namun pasti berkembang sampai kemudian ia mendirikan PT ASI Pudjiastuti Marine Product, sebuah perusahaan pengolahan ikan laut dengan lobster sebagai komoditi unggulan yang diberi merek Susi Brand.

Tak main-main, selain disambut dengan baik oleh pasar lokal, produknya pun merambah pasar Asia dan Amerika.

Mengingat ikan laut adalah produk yang mesti terjamin kesegarannya, maka tercetus ide untuk mengangkut produk ikannya menggunakan pesawat menuju Jakarta. Karena sebelumnya logistik menjadi menjadi problem yang cukup menggangu. Dengan transportasi darat, Susi membutuhkan waktu 9 jam dari Pangandaran ke Jakarta, sedangkan pesawat hanya memakan waktu satu jam saja.

Susi benar-benar menempuh ide itu. Meski awalnya dinilai tak mungkin oleh perbankan, kegigihannya berbuah manis. Sebuah bank berplat merah mempercayainya bantuan dana yang cukup untuk membangun landasan pesawat di Pangandaran dan membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan.

susi-air

Susi Air, gambar: ppmionline.or.id

Tak hanya punya naluri bisnis yang tajam, Susi sangat peka dengan urusan sosial. Kurang lebih satu tahun setelah ia mewujudkan pesawat, terjadilah musibah tsunami di Aceh. Dan Susi termasuk yang terdepan dalam mengulurkan bantuan.

Pesawat yang baru saja dimilikinya menjadi pesawat pertama yang datang membawa bantuan bagi para korban di Aceh. Saat itu, pesawat besar relatif belum masuk ke Aceh karena sulitnya medan akibat tsunami.

Siapa menanam, dia yang menuai. Barangkali ini berlaku untuk Susi. Niat membantu orang lain, justru berbalik hal yang tak terduga. Karena di Aceh banyak sekali relawan dari LSM dalam dan luar negeri meminta pesawatnya tetap berada di Aceh untuk mereka sewa.

Peristiwa tak terduga ini benar-benar menjadi tonggak bisnis penerbangan Susi. Karena sejak itu perusahaanya berkembang, dan sampai saat ini perusahaan Susi Air memiliki 50 pesawat beragam jenis yang mampu menjangkau tempat-tempat terpencil di Indonesia.

Sungguh lompatan besar yang berawal dari pesisir Pangandaran.

2. Andris Wijaya

Andris-wijaya

Andris Wijaya, gambar: globeasia.com

Juragan beras dari Garut. Awalnya hanya mampu memproduksi 50 pax perhari. Seiring waktu permintaan pun meningkat hingga per hari mampu memproduksi 2.000 pax dengan harga 23.400/pax. Artinya omset perhari sekitar 40 juta rupiah, atau rata-rata perbulan 1 Miliar rupiah. Apa yang diproduksi oleh Andris? Nasi liwet instan dengan merek 1001.

Bagaimana kisahnya? Sebelum terjun ke bisnis nasi instan ini, Andris adalah seorang karyawan swasta dengan gaji yang sudah lumayan. Ayahnya, Dedy Mulyadi, seorang penguasaha penggilingan beras sejak 1974 dengan brand 1001 yang biasa dijual ke Jakarta secara curah.

Ayahnya meninggal di tahun 1996 sehingga usahanya pun tutup. Saat itu kakak-kakak Andris sudah punya usaha sendiri, sedangkan Andris kuliah di Bandung dan melanjutkan bekerja di sana. Barulah tujuh tahun kemudian, atas permintaan sang ibu, Andris pulang ke kampungnya dengan maksud melanjutkan usaha yang pernah dijalani mendiang ayahnya.

Tahun 2003 Andris memulai usahanya dengan mendirikan perusahaan komanditer (CV). Masa-masa awal tidaklah mudah. Dengan cita-cita mengangkat nama beras Garut, Andris meyakini bahwa mestilah dilakukan inovasi kreatif pada berasnya.

Karena selama ini, berpuluh tahun mendiang ayahnya mengirim beras berkualitas ke Jakarta dalam tonnase yang besar, tidak juga membuat beras Garut dikenal luas.

Andris pun melakukan berbagai eksperimen dan riset-riset. Hingga tercetus ide membuat produk nasi liwet instan. Nasi liwet dipilih karena berdasar risetnya, olahan beras bernama liwet ini sangat digemari masyarakat. Merek 1001 dipilih untuk melanjutkan usaha ayahnya dulu, dengan filosofi bahwa dari seribu, hanya ada satu yang seperti ini.

Usaha Andris tidak langsung mulus. Lulusan Teknik Energi Politeknik ITB ini sempat mengalami ditipu rekannya hingga mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Pabrik penggilingan pun sempat ditawarkan untuk dijual, namun tak juga bertemu jodohnya.

Sembari menunggu pabriknya laku, Andris melanjutkan inovasi dan ekperimen dengan mesin-mesinnya sampai menghasilkan beras yang lebih bersih putih alami, bebas dari kutu, lebih pulen dan awet. Dicoba disimpan dalam rice cooker seharian pun tidak membuatnya jadi berbau atau berubah warna.

Tak puas dengan hasil beras berkualitas yang dihasilkannya. Andris melanjutkan dengan produk liwet instan. Awalnya produk ini kurang mendapatkan sambutan. Toko oleh-oleh banyak yang menolak. Tapi, Andris tak patah semangat.

Promosi ke kantor-kantor bahkan hingga membawa pemasak nasi dalam promonya itu sehingga aroma dari liwet instan bisa terasa oleh banyak orang. Andris pun rela menyimpan produk di beberapa toko oleh-oleh secara gratis demi produknya bisa dipajang di sana.

Usaha tak mengkhianati hasil. Begitu banyak dikatakan orang. Nasi Liwet Instan 1001 yang memiliki berbagai macam varian rasa ini semakin dikenal dan diminati pasar.

Penjualan secara online membuat produknya semakin cepat dikenal dan sejak 2012 produknya bisa menembus Malaysia, Singapura, Thailand, Australia. Hal yang sangat mengejutkan adalah bahwa produk liwet instan inipun disukai di Dubai dan Amerika Serikat.

Berkat kegigihannya, BNI mendaulatnya sebagai duta Mutiara Bangsa Berhasanah. Ia menjadi salah seorang dari 13 orang yang terpilih dari proses seleksi yang cukup ketat dari 415 peserta di tahun 2014. Karyawan yang mulanya hanya tiga orang, kini mencapai 270 orang.

Usahanya pun merambah dunia kuliner dengan mendirikan restoran D’Anclom di Garut. Andris adalah salah satu dari anak-anak bangsa yang mampu berdaya saing dari desa dan memberdayakan desanya.

3. Aang Permana

Aang Permana

Aang Permana, gambar: twiiter @KickAndyShow

Pada Maret 2017, pemuda asal Cianjur Jawa Barat ini meraih penghargaan Kick Andy Heroes. Penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang berkarya dan memberikan manfaat luas untuk masyarakat. Aang Permana adalah alumni fakultas Perikanan dan Kelautan IPB.

Aang berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Semasa bersekolah, Aang banyak ditemani surat keterangan tidak mampu guna mendapatkan keringanan biaya. Sedang semasa kuliah, Aang berhasil meraih beasiswa.

Sebelum terjun ke dunia bisnis, selepas lulus dari kampusnya Aang sempat bekerja di perusahaan migas. Pekerjaan ini membuatnya banyak berkunjung ke pantai-pantai hampir dari ujung Aceh hingga Papua.

Dua tahun menjalani pekerjaannya membuat Aang melihat kenyataan bahwa potensi perikanan di negeri ini sangatlah besar. Tak terkecuali di daerah asalnya, Cianjur.

Dua tahun bekerja, Aang memutuskan untuk berhenti dan memilih kembali ke Cianjur dengan cita-cita mengembangkan potensi di daerahnya. Disinilah ide bisnisnya muncul.

Ia melihat di waduk atau bendungan Cirata terdapat jenis ikan yang sudah sekian lama dianggap sebagai limbah, yaitu ikan Petek. Ikan yang seukuran ikan teri ini memiliki bau amis yang berlebih sehingga tidak diminati orang. Ikan ini lebih banyak dijadikan pakan ternak.

Padahal bagi Aang, dibalik bau amis yang berlebih itu terdapat kandungan protein dan kalsium yang lebih besar dari ikan air tawar lainnya. Bermodal awal tabungannya dua juta ribu rupiah, Aang mengolah ikan Patek menjadi crispy. Bau amisnya jadi jauh berkurang, namun citarasa dan kandungan gizinya relatif terjaga. Produk ini ia kemas dengan merek Crispy Ikan Sipetek.

Bukan hal mudah mengawali bisnis ini karena nama ikan Patek sendiri kurang familiar di telinga konsumen, apalagi bagi orang yang tinggal di luar Cianjur. Namun, Aang terus mengedukasi pasar. Usahanya tak sia-sia, produknya mulai digemari masyarakat luas. Hal ini ia imbangi dengan terus memperbaiki kualitas produk, pengemasan dan teknik pemasaran.

Hasilnya, Crispy Ikan Sipetek semakin dikenal hingga 70 kota di Indonesia bahkan sampai Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan dan Arab Saudi. Dalam satu hari, produknya terjual 1.000 hingga 1.500 bungkus, dengan harga 25 ribu rupiah per bungkusnya. Artinya dalam satu tahun perputaran modal bisa mencapai miliaran rupiah.

Geliat Crispy Ikan Sipetek ini tak lepas dari inovasi marketing yang Aang lakukan dengan melibatkan 500 reseller termasuk di dalamnya para tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Adapun karyawan, Aang mempekerjakan belasan ibu-ibu dengan rentang usia 46-56 tahun di lingkungannya.

Bukan tanpa alasan Aang memilih karyawan dengan kriteria ini. Ia melihat bahwa ibu-ibu pada usia 46-56 sudah kurang produktif secara ekonomi dan ia ingin membantu mereka agar tetap memiliki penghasilan tanpa banyak mengganggu peran mereka sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan kaum wanita yang usianya lebih muda tentu bisa mendapatkan pekerjaan lain di tempat lain.

Karena kreatifitasnya ini, Aang diganjar denga berbagai macam penghargaan. Selain Kick Andy Young Hero seperti disebutkan di atas, ia juga didaulat sebagai juara 1 Wirausaha Muda Berprestasi Tingkat Provinsi dari Dispora Jawa Barat, Runner Up Business StartUp Award Shell Livewire, dan berbagai penghargaan lainnya.

Aang menjadi contoh nyata bagaimana seorang pemuda, sarjana, kembali ke desa dan membangun bangsanya dari desa. “Percayalah, desamu lebih membutuhkanmu. Ayo pulang ke desa. Desa membutuhkan kehadiran anak muda penerus bangsa”, demikian pesannya.

4. Zukri

Mungkin kita asing mendengar namanya. Zukri adalah pengusaha jahe instan asal Makasar, Sulawesi Selatan. Meski ia bukan berasal dari keluarga penguasaha, namun darah usahanya mengalir deras.

Terbukti, tidak hanya jahe instan saja yang ia geluti, namun juga merambah ke usaha jasa training management outbone. Dari dua bidang usaha ini Zukri meraup omzet hingga ratusan juta perbulan.

Zukri melihat jahe sebagai salah satu komoditi khas yang berlimpah di daerahnya. Memang betul bahwa di daerah lain pun banyak penghasil jahe, bahkan produk jahe instan pun sudah ada pemainnya.

Namun, dengan kreativitas dan inovasi, produk Zukri berhasil memiliki pembeda dan menemukan pangsa pasarnya sendiri. Terbukti, produknya yang bermerek Sukma Jahe tidak hanya diterima dengan baik oleh pasar Sulawesi, namun juga hingga Kalimantan, Sumatera dan Jawa.

Sukma_Jahe

Sukma Jahe, gambar: bukalapak.com/u/bungolley

Setiap bulannya, volume produksi Sukma Jahe mencapai 25.000 sachet. Dijual seharga 2.000 rupiah per sachet, maka omzet bulanannya mencapai 100 juta rupiah. Untuk memasarkan produknya, Zukri memakai sistem keagenan. Meski tidak dijual di gerai-gerai supermarket atau minimarket, penjualan produknya relatif cepat meski hanya mengandalkan agen di berbagai daerah.

Sukses dengan bisnis jahe instan tak lantas membuat Zukri berpuas hati. Tahun 2004 ia melebarkan usahanya pada bisnis outbone di Makasar. Usahanya ia namai Parabus Malino Tour and Outbond. Ia menyadari bahwa Makasar masih memiliki potensi alam yang kaya, dan Makasar sudah termasuk kota besar di Indonesia Timur. Ini adalah peluang yang menjanjikan.

Melalui perusahaan jasa ini, Zukri menawarkan berbagai macam produk pelatihan oleh trainer-trainer berpengalaman. Pelatihan-pelatihan yang diadakannya banyak memanfaatkan alam terbuka sehingga mengasah kekompakan, kerjasama, pemecahan masalah, kepemimpinan, kreatifitas dan kebugaran fisik.

Kiprah perusahaan jasa ini sudah dirasakan oleh berbagai perusahaan besar yang memiliki cabang di Makasar seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Aneka Tambang, PT Frisian Flag, dan berbagai perusahaan lainnya dengan bidang yang bermacam-macam.

Tak berhenti sampai di penyediaan jasa pelatihan, Zukri membesarkan perusahaannya dengan membuka pula jasa transportasi dan penginapannya sekaligus. Sehingga kemudian klien-kliennya bisa menambah paket pelatihan ditambah rekreasi alam terbuka, atau hanya mengambil paket rekreasinya saja.

Dari usahanya ini, Zukri bisa meraup omzet 200 juta lebih setiap bulannya. Perusahaannya semakin dikenal dan terkategori perusahaan jasa training dan outbond paling berpengaruh dan terbaik di Sulawesi Selatan.

5. Nur Ali

nur-ali-kerjainan-kayu-jati

Nur Ali, pengusaha kerajinan akar jati, gambar: bayuwin.com

esa tempat dia tinggal, nyaris tak memiliki potensi yang berarti. Warganya bekerja sebagai pencari kayu bakar. Kerawanan sosial cukup tinggi. Tapi, itu dulu. Kreatifitas seorang pemuda bernama Nur Ali telah memoles desanya sehingga memiliki wajah yang lebih cerah dan sumringah.

Nur Ali tinggal di desa Geneng, kecamatan Marhomulyo, kabupaten Bojonegoro. Nur adalah seorang pengusaha akar jati yang sudah mengalami erosi. Sepak terjangnya dalam dunia bisnis tidaklah mulus, ia pernah mencoba peruntungan pada bisnis ayam potong namun gagal.

Sempat juga menjadi buruh tani. Sedangkan bisnis akar jatinya yang sekarang itu berawal dari keisengan semata. Ketika ia mencari kayu bakar, ia menemukan akar pohon jati erosi yang agak besar. Ia membawanya pulang dan memajangnya di teras rumah dengan maksud siapa tahu ada yang membelinya.

Keisengannya berbuah manis, karena akar tersebut ada juga yang membeli meski hanya laku seharga 65 ribu rupiah saja. Peristiwa ini menjadi hembusan semangat bagi Nur. Ia pun mencari akar-akar jati erosi dari kawasan hutan di antara Ngawi, Madiun dan Cepu. Tentu atas izin dari pihak Perhutani. Tidak mudah bagi Nur melakukan ini karena jarak antara lokasi hutan dengan rumahnya adalah sekitar 100 km.

Nur memilih akar jati erosi sebagai bahan komoditinya karena menurut ia akar jati erosi ini sudah memiliki bentuk unik yang spesifik dan detail, sehingga tidak perlu susah payah membentuknya lagi. Cukup menjadikan bentuk asalnya sebagai objek pekerjaan yang tinggal dibersihkan, dipoles dan diperindah saja.

Kalau bentuknya bagus, berkarakter dan punya nilai seni, harga kerajinan akar jati erosinya itu bisa laku seharga 5 juta rupiah. Sedangkan untuk produk souvenir harganya berkisar di 50 ribu rupiah.

Bisnis ini ternyata semakin berkembang. Terbukti untuk souvenir saja, Nur bisa memenuhi 1.000 pesanan setiap bulannya. Sedangkan untuk kerajinan yang bagus dan bernilai seni, Nur sudah sering melayani pemesanan dari Bali di mana nantinya produk itu akan diekspor ke Perancis dan Jerman.

Kegiatan Nur Ali sungguh menjadi inspirasi bagi lingkungnnya. Tidak sedikit yang mengikuti jejaknya menjadi pengrajin akar jati erosi. Karena muncul setelahnya 80-an pengrajin akar jati erosi. Seorang tetangga Nur Ali bisa menjual kursi berbahan akar jati erosi seharga 4 hingga 9 juta rupiah.

Nur Ali sudah memiliki belasan orang pegawai. Omsetnya mencapai 50 juta rupiah per bulan. Tapi ada yang lebih membahagiakan dari itu. Desanya kini jadi lebih produktif. Lapangan kerja semakin terbuka, pengangguran semakin berkurang, keuntungan dari kerajinan akar jati disalurkan lagi untuk membuka kegiatan ekonomi yang lain, kesejahteraan meningkat karena upah pekerja dan pengrajin di atas upah minimum kabupaten Bojonegoro. Nur Ali membuat desanya semakin bersinar.

**

Inilah lima profil di antara sekian banyak orang yang menjadi penggerak dan inspirator di desanya masing-masing. Indonesia adalah negeri yang kaya. Jika para pemuda-pemudi negeri ini mau dan mampu mengembangkan desanya, maka akan tercipta kesejahteraan yang adil dan merata. Semoga menjadi penyemangat untuk kita semua.

Penulis: Rashid Satari [Instagram: @kangrashid_]

Referensi :
[1] http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/10/30/oylw6v374-ikan-petek-antarkan-aang-permana-jadi-wirausaha-muda-sukses
[2] http://anitahidayantii.blogspot.co.id/2014/06/5-pengusaha-sukses-yang-berasal-dari.html
[3] https://www.dream.co.id/dinar/1001-langkah-andris-wijaya-jadikan-beras-garut-tersohor-151105g.html
[4] https://studentpreneur.co/blog/apa-saja-bisnis-menteri-susi/
[5] http://surabaya.tribunnews.com/2015/04/27/berawal-dari-iseng-datangkan-omset-rp-50-juta-per-bulan

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

To Top