Connect with us

Fisika

Richard Feynman, Fisikawan dan Guru Terbaik Idaman Bill Gates

sweater-rajut-pria

Perkembangan IPTEK sampai saat ini tak terlepas dari peranan sejumlah ilmuan fisika yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya, demi menguak misteri alam, yang dituangkan dalam sebuah hukum fisika, persamaan, prinsip hingga teori. Salah satunya Richard Feynman.

Richard Feynman ia seorang fisikawan teoritis sekaligus guru seperti pendulunya Albert Einstein, ia suka berpikir kritis serta mengutak-atik suatu persamaan matematis, seperti teori relativitas umum. Berkat kejeniusan dan perasaan mendalamnya terhadap fisika, ia mampu menyempurnakan beberapa persamaan mekanika kuantum.

Bahkan seorang Bill Gates dalam tulisannya di gatesnotes.com mengatakan bahwa dirinya sangat mengagumi Richard Feynman dan menganggap bahwa Feynman adalah guru idaman, guru terbaik yang tidak pernah ia miliki.

Bill Gates bercerita saat pertama kali jatuh cinta pada pola pengajaran Richard Feynman, saat dia bersama temannya berjalan-jalan sambil mempelajari hal baru. Bill menemukan koleksi film universitas lokal dan melihat bagaimana Richard Feynman mengajar begitu luar biasa menurutnya. Dia seketika mengagumi Feynman yang mampu menjelaskan fisika lebih jelas dan menyenangkan dalam waktu bersamaan.

Berikut adalah video yang Bill Gates persembahkan mengenai Richard Feynman.

Dalam video itu, Bill Gates mengungkapkan kekagumannya pada cara Feynman menjelaskan bagaimana kebakaran bekerja. Dia mengambil contoh/perumpamaan yang jelas dalam pemaparannya. Saking jelasnya dalam memaparkan bagaimana kebakaran terjadi, membuat siapa pun bisa memahaminya.

Feyman Dimasa Kecil

Masa kecil Feynman dihabiskan di rumah, jauh dari keramaian kota Manhattan. Secara finansial, keluarganya tidak tergolong kaya maupun miskin, namun nyaman. Semasa muda ia bercita-cita menjadi seorang pebisnis, tapi tidak ada dorongan dari siapapun. Lalu waktulah yang menjawab, siapa jati diri Feynman sebenarnya, kemana ia harus bekerja, mencurahkan seluruh kehidupan nya demi menjadi orang yang berguna bagi dunia.

Sifat Feynman sangat dipengaruhi ayahnya, Melville. Saat masih di dalam kandungan, ayahnya sering mencita-citakan, jika anaknya laki-laki, ia berharap kelak anaknya menjadi seorang ilmuan. Walaupun begitu, Feynman muda diberi kebebasan dalam memilih jalan hidupnya.

Berbeda dengan ayahnya, ibunya Lucille, ia lebih mementingkan masa depan Feynman yang sukses, tanpa melihat jenis pekerjaan apa yang harus di geluti Feynman kelak. Nasehat yang dibungkus canda tawa dari ibunya-lah, yang selalu menyemangati Feynman dan menggiring nya sampai memilih pilihan tepat sesuai bakat alaminya.

Menjadi Seorang Fisikawan dan Menikah

Salah satu mental positif yang dimiliki Feynman saat remaja, sangat berguna bagi fase kehidupan selanjutnya, pertama saat menjadi seorang fisikawan, yang kedua saat menjalin hubungan. Walaupun prioritas hidupnya menjadi seorang fisikawan, saat remaja, di sekolah sma dulu, ia tak menyangka akan bertemu seseorang yang sangat penting di dalam hidup nya kelak, ia adalah Arline Greenbaum.

Kedatangan Arline dalam kehidupan Feynman, sungguh mengguggah, mewarnai hidup, dan menjadikan Fey lebih percaya diri dalam segala hal. Arline tidak bosan mengingatkan Feynman untuk selalu semangat terhadap cita-cita nya, menjadi seorang fisikawan.

Akhirnya selama empat tahun, ia berhasil lulus dari MIT, yang dulu merupakan salah satu universitas terbaik fisika, dan sekarang juga sama. Lalu, ia melanjutkan pendidikannya di Princeton, sampai ia meraih gelar Ph.D. Sebelum lulus, Feynman hendak menikahi Arline. Kebahagian mereka sempat pupus, setelah Arline jatuh sakit, dan divonis menderita tuberkolosis, dan diperkirakan tak bertahan lama. Namun, Feynman bersikeras untuk tetap menikahi Arline, dengan tujuan ingin bersama-sama memikul beban Arline.

Feynman dan Proyek Rahasia Manhattan

Pada tahun 1900an, beberapa ilmuan fisika telah berhasil mengungkap rahasia tentang energi maha dahsyat yang tersimpan di dalam ikatan atom, dan tinggal waktu untuk membuktikannya. Disaat bersamaan, dunia tengah mengalami gejolak peperangan, dimana diperkirakan Nazi yang memimpin Jerman kala itu tengah merancang dan mengembangkan tenaga nuklir, dan hal ini membuat semua negara takut, termasuk AS.

Saat PD II meletus, AS memulai proyek rahasia, yang dikenal sebagai Manhattan Project. Tujuan proyek ini yakni mempercepat terlahirnya teknologi nuklir, dengan pusat penelitian di Los Alamos, dekat gurun New Mexico. Semua matematikawan, fisikawan dan kimiawan dipanggil untuk mensukseskan proyek ini, termasuk Feynman.

Saat itu, Feynman masih di Princeton sedang merawat istrinya yang sedang sakit, setelah menerima surat dinas, pada awalnya Fey tidak merasa tertarik untuk membuat senjata pemusnah massal itu, namun pikirnya jika nazi terlebih dulu membuat senjata ini, pastilah dunia akan hancur lebur. Jadi, ia pun mengambil pekerjaan itu, lalu pindah ke Los Alamos dan Arline, istri tersayangnya dipindahkan ke rumah sakit Alburquerque untuk dirawat di sana.

Selama seminggu ia mengerjakan teori pembuatan bom, dan pada akhir minggu ia pergi ke rumah sakit, yang jaraknya cukup jauh, untuk melihat istri tercintanya. Selama pengerjaan proyek, ia terlihat bergairah untuk segera menyelesaikan bom ini. Bakatnya sangat berguna saat mendisain bom nuklir agar aman saat diledakan dari jarak jauh, dan ini sungguh memerlukan perhitungan dan metode yang terhitung jenius.

Pada suatu bulan, mendekati akhir perang, penyakit tuberkolosis yang diderita Arline sampai pada puncaknya, pada bulan Juli 1945, sebelum tes bom nuklir pertama di dunia itu, Arline meninggal dunia, dan membuat Feynman kehilangan berat, namun tugas nya belum selesai, ia pun kembali lagi ke Los Alamos untuk menyelesaikan senjata atom tersebut.

Setelah PD II berakhir, Feynman pindah ke Universitas Cornell dan menjadi professor disana, namun ia seakan kehilangan inspirasi dan kepercayaan pada fisika, dan dalam benaknya ia sempat menginginkan hidupnya kembali lagi ke belakang, saat ia masih bersama Arline mengerjakan tesis Ph.D-nya tentang metode baru pemecahan mekanika kuantum, yang mengantarkannya meraih Nobel Prize.

Namun Feynman tidak ingin berlama-lama dalam kegalauannya ini, ia pun mencari sosok pengganti Arline, sampai-sampai ia menikah dua kali, istri keduanya Mary Lou dan yang ketiga bersama Gweneth Howarth. Namun sesungguhnya, tak seorang wanita pun yang dapat mengisi kekosongan hati Feynman, kecuali istri pertamanya.

Diagram Feynman dan Nanoteknologi

Pada tahun 1950an, dengan inisiatif sendiri, Feynman pindah ke California Institute of Technolgy atau Caltech, sebagai Professor Fisika Teoritis. Sebelumnya Feynman mengembangkan persamaan Lagrangian (Persamaan Dirac) pada mekanika kuantum agar lebih komplit, lebih mudah digunakan dengan bantuan integral tertutup.

Dari sini, ia mengembangkan bahasa matematika baru yang dinamakan Diagram Feynman, dimana membuat perhitungan lebih akurat pada kuantum elektrodinamika dan lebih sesuai dari sebelumnya.

Diagram Feynman, gambar: scienceworld.wolfram.com

Diagram Feynman, gambar: scienceworld.wolfram.com

Sekarang Diagram Feynman sangat diperlukan untuk perhitungan di dalam bahasan kuantum teoritis, termasuk bahasan model standar atom. Pada 1957, Feynman menjelaskan “pelanggaran keseimbangan” pada interaksi nuklir lemah, Sekarang teori ini dikenal sebagai Teori Feynman-Gell-Mann Sudarhan-Marshak.

Nanoteknologi adalah salah satu pemanfaatan teori Feynman. Pada 1959, ia menyampaikan kuliah tentang There’s Plenty of Room at The Bottom di Caltech. Saat berceramah, Feynman sangat visioner, berbicara segala hal, lalu bertanya: “apa yang dapat dicapai jika para ilmuan dapat memanipulasi atom secara individu?” Walaupun gagasan Feynman hanya berpengaruh kecil saat itu, sejalan perkembangan teknologi, gagasan tersebut ternyata dapat diaplikasikan sedikti demi sedikit hingga kini.

Karismatik Feynman dan cara berpikirnya yang unik jika berbicara tentang fisika, serta hasratnya yang menggebu-gebu, menginspirasi semua kalangan, baik limuan maupun non-ilmuan untuk lebih banyak belajar tentang bagaimana dunia ini berjalan. Seperti yang terdapat pada video berikut mengenai cara Feynman menjelaskan fisika yang membuat kita tertarik.

sweater-rajut-pria

Pada dasarnya, kesuksesan seseorang tidak terlepas dari peran serta orang-orang di sekitar kita, termasuk Richard Feynman, ia mempunyai orang tua yang begitu peduli dan selalu memotivasi dirinya sejak kecil, dan semangat tersebut terbawa hingga dewasa. Ia pun mempunyai kekasih yang selalu mendorong dan mengingatkan Feynman akan tujuan hidupnya, dan Feynman pun berhasil meraih hadiah Nobel atas penelitiannya tentang fisika partikel tahun 1965.

Referensi:
www.feynman.com
www.famousscientists.org

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

To Top